Aksi protes di Serbia berpusat di sekitar gedung parlemen di Belgrade. (Foto: AFP/Getty/A. Isakovic)
Aksi protes di Serbia berpusat di sekitar gedung parlemen di Belgrade. (Foto: AFP/Getty/A. Isakovic)

Ratusan Demonstran Mencoba Serbu Gedung Parlemen Serbia

Willy Haryono • 11 Juli 2020 09:02
Belgrade: Polisi menembakkan gas air mata ke arah ratusan demonstran yang mencoba menyerbu gedung parlemen Serbia di Belgrade, Jumat 10 Juli. Percobaan penyerbuan terjadi di malam keempat berlangsungnya aksi protes massa terhadap kepemimpinan Presiden Aleksandar Vucic yang dinilai semakin otoriter.
 
Para pengunjuk rasa -- yang melanggar aturan berkumpul dalam jumlah besar di tengah pandemi virus korona (covid-19) -- melemparkan botol, batu, dan benda lainnya ke arah polisi di area gedung parlemen. Mereka juga berusaha menyingkirkan pagar besi yang dipasang di depan gedung parlemen.
 
Awalnya polisi hanya menggunakan perisai mereka untuk mendorong para pedemo. Namun karena aksi demonstrasi kian memanas, petugas menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Sebagian polisi terlihat mengejar beberapa demonstran yang dianggap sebagai provokator.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa tokoh oposisi mengatakan bahwa aksi kekerasan dalam unjuk rasa ini merupakan kelompok nasional sayap kanan yang dikendalikan pemerintah. Menurut oposisi Serbia, aksi kekerasan sengaja dilakukan untuk mendiskreditkan aksi protes damai terhadap kepemimpinan Vucic di tengah pandemi covid-19.
 
Vucic membantah keras bahwa "para perusuh" di Serbia berada di bawah kendalinya. Ia justru menuding balik bahwa para perusuh itu sengaja dihadirkan oleh kelompok oposisi.
 
Pada Jumat malam, Vucic menegaskan bahwa siapapun yang berani menyerang polisi akan langsung ditangkap. "Para perusuh ini hanyalah kelompok yang ingin merebut kekuasaan," kata Vucic, dilansir dari laman PBSO, Jumat 10 Juli 2020.
 
Satu hari sebelumnya, Vucic mengaku tidak khawatir jika harus kehilangan kekuasaan di tengah demonstrasi. Gelombang aksi protes kali ini merupakan yang paling intens sejak tergulingnya pemimpin Serbia Slobodan Miloseciv pada 2000.
 
Alih-alih takut kehilangan kekuasaan, Vucic mengaku hanya khawatir aksi protes massa ini dapat memperburuk penyebaran covid-19.
 
"Merupakan hal yang tidak bertanggung jawab untuk mengajak orang berunjuk rasa saat kita sedang menghadapi virus korona," kata Vucic kepada awak media saat berkunjung ke Prancis.
 
"Saya mohon kepada semua masyarakat, tolong jaga kesehatan kita semua. Tidak ada orang yang bisa mengambil kekuasaan melalui kekuatan. Kekuasaan bisa didapat melalui pemilihan umum. Anda semua dapat berunjuk rasa sepuasnya saat epidemi ini berakhir," ungkap Vucic.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif