Sebanyak tiga tentara tewas pada Minggu, dan satu lainnya pada Senin kemarin dalam tembakan artileri yang meletus pada akhir pekan kemarin di dekat wilayah Tavush. Bentrokan juga melukai dua tentara Armenia dan lima tentara Azerbaijan.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa 14 Juli 2020, kedua negara saling menuduh pihak mana yang memulai pertempuran. Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan mengatakan bahwa provokasi dari Azerbaijan tidak akan dijawab.
"Kami akan bereaksi terhadap tindakan Azerbaijan, termasuk dengan mengambil posisi menguntungkan di wilayah mereka," kata Menteri Pertahanan David Tonoyan.
Dia mengatakan pasukan Armenia tidak menembak sasaran sipil di Azerbaijan. Namun, pihaknya menargetkan infrastruktur dan fasilitas angkatan bersenjata negara tetangganya itu.
Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatskanyan membahas krisis ini melalui telepon dengan kepala Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO).
Sementara itu, kantor Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengatakan Armenia melakukan penyerangan untuk menarik CSTO dalam pertempuran. CSTO merupakan blok militer yang dipimpin Rusia.
Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan mendukung Azerbaijan. "Turki akan terus, dengan segala kemampuannya, untuk berdiri dengan Azerbaijan dalam perjuangan melindungi integritas teritorialnya," kata kementerian itu.
Armenia yang didukung Rusia, dan Azerbaijan yang didukung Turki saling bersaing untuk mendapat pengaruh geopolitik di kawasan strategis. Bekas republik Soviet ini telah 30 tahun berkonflik atas Nagorno-Karabakh, wilayah yang memisahkan diri, yang menjadi perang berdarah pada 1990-an.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News