Utusan Khusus WHO untuk Pandemi Covid-19, David Nabarro. (AFP)
Utusan Khusus WHO untuk Pandemi Covid-19, David Nabarro. (AFP)

WHO Khawatirkan Gelombang Ketiga Covid-19 di Eropa

Willy Haryono • 23 November 2020 09:00
Zurich: Utusan Khusus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) David Nabarro memprediksi terjadinya gelombang ketiga virus korona (covid-19) di Eropa pada awal 2021, jika negara-negara di benua tersebut gagal melakukan langkah pencegahan yang efektif. Menurut Nabarro, sejumlah negara di Eropa selama ini belum maksimal dalam menangani transmisi covid-19.
 
"Mereka belum membangun infrastruktur yang dibutuhkan selama musim panas, saat mereka berpikir sudah berhasil mengendalikan gelombang pertama (covid-19)," kata Nabarro, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar asal Swiss.
 
"Sekarang gelombang kedua sedang terjadi. Jika mereka tidak membangun infrastruktur yang dibutuhkan, maka gelombang ketiga akan terjadi awal tahun depan," lanjutnya, dilansir dari laman SMH pada Senin, 23 November 2020.

Baca:  Gelombang Kedua Covid-19 Hantam Belahan Bumi Utara
 
Eropa sempat mengalami penurunan rata-rata infeksi harian, sebelum akhirnya kembali melonjak. Sabtu kemarin, Jerman dan Prancis mencatat total 33 ribu kasus gabungan covid-19.
 
Sementara jumlah kasus harian covid-19 di Swiss dan Austria belakangan ini berada di kisaran ribuan. Di Turki, angka kasus hariannya sempat mencapai 5.532.
 
Nabarro secara spesifik mengkritik Swiss yang tetap mengizinkan aktivitas bermain ski. Padahal, negara-negara lainnya yang dilewati Pegunungan Alpen seperti Austria telah menutup resor wisata.
 
Jika Swiss tetap melanjutkan kebijakannya, Nabarro khawatir angka infeksi dan kematian akibat covid-19 dapat menjadi "sangat tinggi."
 
"Saat rata-rata infeksi turun, dan saya yakin akan terjadi seperti itu, maka kita bisa bebas melakukan apa saja," ungkap Nabarro kepada koran Solothurner Zeitung. "Tapi saat ini? Apakah resor ski seharusnya tetap dibuka?" tanyanya.
 
Ia memuji respons beberapa negara Asia seperti Korea Selatan, yang saat ini tingkat infeksinya relatif rendah. Menurutnya, warga Korsel cenderung mematuhi aturan dan imbauan pemerintah dalam meredam transmisi covid-19.
 
"Masyarakat (Korsel) betul-betul terlibat. Mereka menerapkan perilaku yang membuat virus sulit untuk menyebar. Mereka tetap menjaga jarak, memakai masker, mengisolasi diri saat sakit, mencuci tangan dan lainnya," sebut Nabarro.
 
Menurut Nabarro, negara-negara di Asia telah melonggarkan berbagai pembatasan covid-19 secara prematur. Pelonggaran baru dilakukan saat angka kasus covid-19 sudah benar-benar jauh menurun.
 
"Anda semua harus menanti hingga jumlah kasusnya rendah dan tetap rendah. Menurut saya reaksi Eropa belum optimal," pungkas Nabarro.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WIL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan