Sisa kehancuran akibat serangan Rusia di sebuat pusat perbelanjaan Kremenchuk, Ukraina. Foto: AFP
Sisa kehancuran akibat serangan Rusia di sebuat pusat perbelanjaan Kremenchuk, Ukraina. Foto: AFP

Rusia: Serangan Berakhir saat Ukraina Letakkan Senjata

Fajar Nugraha • 29 Juni 2022 06:20
Moskow: Barat berjanji untuk meningkatkan pertahanan NATO dan mendukung Ukraina sampai akhir ketika Moskow menuntut penyerahan Kiev. Di saat bersamaan, Rusia desak Ukraina letakan senjata.
 
Ketika para pemimpin NATO berkumpul di Madrid untuk pertemuan puncak, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan, Finlandia dan Swedia akan secara resmi diundang untuk bergabung dengan NATO setelah Turki mencabut larangannya atas tawaran mereka.
 
Sementara pada KTT G7, para pemimpin sepakat untuk menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan industri pertahanan Moskow. Selain juga menaikkan tarif dan melarang impor emas dari negara itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kementerian Keuangan AS mengatakan, langkah-langkah itu "menyerang jantung kemampuan Rusia untuk mengembangkan dan menyebarkan senjata dan teknologi yang digunakan untuk perang agresi brutal Vladimir Putin melawan Ukraina."
 
Pihak Kemenku AS mengatakan, serangkaian sanksi baru menargetkan Rostec, konglomerat pertahanan terbesar Rusia, serta unit dan perwira militer yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia di Ukraina.
 
Kremlin Putin tidak terpengaruh oleh sanksi, memperingatkan bahwa satu-satunya pilihan pasukan Ukraina adalah meletakkan senjata mereka.
 
"Pihak Ukraina dapat menghentikan segalanya sebelum akhir hari ini," kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, seperti dikutip AFP, Rabu 29 Juni 2022.
 
"Perintah agar unit nasionalis meletakkan senjata mereka diperlukan,” ucapnya, seraya menambahkan Kiev harus memenuhi daftar tuntutan Moskow.

Serangan Kremenchuk

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyerukan PBB untuk mengunjungi lokasi serangan rudal di sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota Kremenchuk, saat ia berbicara kepada Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa.
 
"Saya menyarankan PBB mengirim perwakilan khusus, atau Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau komisi yang berkuasa penuh ke lokasi aksi teroris ini, serangan rudal Rusia," ucap Zelensky tentang serangan pada hari Senin yang menewaskan sedikitnya 18 orang.
 
"Semuanya terbakar, benar-benar segalanya, seperti percikan api pada kertas sentuh. Saya mendengar orang-orang berteriak. Itu mengerikan," kata saksi Polina Puchintseva kepada AFP.
 
Yang tersisa dari mal hanyalah puing-puing hangus, bongkahan dinding yang menghitam, dan tulisan-tulisan dari bagian depan toko yang hancur.
 
Rusia mengklaim serangan rudalnya ditujukan ke gudang senjata -- tetapi tidak ada warga sipil yang berbicara dengan AFP yang mengetahui adanya toko senjata di lingkungan itu. Dan, di luar Rusia, pembantaian terakhir hanya memicu kemarahan Ukraina dan solidaritas Barat.
 
"Serangan membabi buta terhadap warga sipil tak berdosa merupakan kejahatan perang," tegas para pemimpin G7 dalam sebuah pernyataan.
 
Zelensky menyatakan di saluran media sosialnya: "Hanya total teroris gila, yang seharusnya tidak memiliki tempat di Bumi, yang dapat menyerang rudal ke objek sipil.
 
"Rusia harus diakui sebagai negara sponsor terorisme. Dunia dapat dan karena itu harus menghentikan teror Rusia," pungkasnya.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif