Media lokal melaporkan pada Kamis 24 Juni, diyakini, kedua perempuan Muslim itu diserang dalam apa yang disebut kejahatan bermotif kebencian.
“Seorang pria yang mengenakan topeng mendekati para wanita di St. Albert. Mereka meneriakkan hinaan rasial dan mengacungkan pisau,” ujar keterangan Royal Canadian Mounted Police, seperti dikutip, CTV News, Jumat 25 Juni 2021.
Seorang perempuan dari kedua bersaudara itu dicengkeram jilbabnya dan dia dibanting ke tanah, di mana dia tidak sadarkan diri. Yang kedua juga dibanting dan sebilah pisau diarahkan di tenggorokannya, sementara tersangka terus meneriakkan hinaan rasial.
“Pelaku kemudian melarikan diri,” kata polisi.
Salah satu korban dibawa ke rumah sakit dan keduanya menderita luka yang tidak mengancam jiwa.
Seekor anjing dibawa untuk melacak tersangka, tetapi dia lolos dari penangkapan dan sekarang menjadi subjek pencarian polisi.
"Tetangga, teman, dan keluarga Muslim kami layak untuk merasa aman dan diterima di komunitas mereka," kata Wali Kota St. Albert, Cathy Heron.
"Saya sedih karena banyak dari mereka tidak merasa aman saat ini,” tegasnya.
Pria itu digambarkan berusia sekitar 50 tahun, tingginya sekitar 180centimer dan mengenakan celana jins gelap, kemeja biru tua, dan bandana merah putih.
“Daerah Edmonton telah menjadi tempat beberapa serangan bermotivasi kebencian tahun ini, termasuk satu di mana seorang wanita berusia 50-an sedang berjalan-jalan ketika dia ditangkap dari belakang dan dilemparkan ke trotoar,” lapor CTV News.
Pada Maret, seorang pria didakwa setelah mengucapkan cercaan terhadap seorang remaja yang mengenakan jilbab.
St. Albert adalah kota berpenduduk sekitar 65.000 yang terletak hanya 12 kilometer dari Edmonton. Ironisnya, St. Albert dinobatkan oleh majalah digital MoneySense sebagai tempat tinggal terbaik di Kanada pada 2014.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News