Menlu AS Antony Blinken saat berada di Washington DC pada 13 Mei 2021.  (LEAH MILLIS / POOL / AFP)
Menlu AS Antony Blinken saat berada di Washington DC pada 13 Mei 2021. (LEAH MILLIS / POOL / AFP)

AS Sayangkan Masih Banyak Negara Batasi Kebebasan Beragama Warga

Willy Haryono • 17 Mei 2021 15:15
Washington: Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat telah mengeluarkan laporan tahunan yang diserahkan kepada Kongres mengenai Kebebasan Beragama Internasional, yaitu Laporan Kebebasan Beragama Internasional, yang menjelaskan status kebebasan beragama di setiap negara.
 
Laporan tersebut mencakup kebijakan pemerintah yang melanggar keyakinan beragama dan praktik kelompok, golongan, dan individu terkait agama, serta kebijakan AS untuk mendorong kebebasan beragama di seluruh dunia.
 
Kemenlu AS menyerahkan laporan tersebut sesuai dengan Undang-Undang Kebebasan Beragama Internasional tahun 1998. Dokumen ini dibuat setiap tahun selama 23 tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kebebasan beragama adalah hak asasi manusia; sesungguhnya, hal ini menyangkut inti makna menjadi manusia—untuk berpikir secara bebas, mengikuti hati nurani kita, mengubah keyakinan kita jika hati dan pikiran kita mengarahkan demikian, untuk mengekspresikan keyakinan itu di depan umum dan secara pribadi," kata Menlu AS Antony John Blinken dalam keterangan tertulis Kedubes AS di Jakarta pada Senin, 17 Mei 2021.
 
"Kebebasan ini diabadikan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Hal ini juga merupakan bagian dari Amandemen Pertama Konstitusi AS. Komitmen negara kami untuk membela kebebasan beragama dan berkeyakinan sudah ada sejak berabad-abad lalu. Hal itu berlanjut hingga hari ini," sambungnya.
 
Dalam Laporan Kebebasan Beragama Internasional tahun ini, hak untuk beragama secara bebas masih di luar jangkauan bagi banyak orang di seluruh dunia. Faktanya, menurut Pew Research Center, 56 negara, yang mencakup mayoritas penduduk dunia, masih menerapkan pembatasan secara besar atau berat terhadap kebebasan beragama.
 
Untuk menyebutkan beberapa contoh saja dari laporan tahun ini, lanjut Blinken, Iran terus mengintimidasi, melecehkan, dan menangkap anggota kelompok agama minoritas, termasuk Baha'i, Kristen, Yahudi, Zoroastrian, Muslim Sunni dan Sufi.
 
"Di Burma (Myanmar), para pemimpin kudeta militer menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab atas pembersihan etnis dan kekejaman lainnya terhadap Rohingya, yang sebagian besar adalah Muslim, dan agama serta etnis minoritas lainnya di seluruh dunia," tutur Blinken.
 
"Dan Tiongkok secara luas mengkriminalisasi ekspresi beragama dan terus melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan serta genosida terhadap Muslim Uighur dan anggota kelompok agama dan etnis minoritas lainnya," pungkas dia.
 
Baca:  Menlu AS Sebut Tiongkok Sebagai Ancaman Bagi Kebebasan Beragama
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif