Boeing 737 MAX mulai terbang lagi di Amerika Serikat usai kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia. Foto: AFP
Boeing 737 MAX mulai terbang lagi di Amerika Serikat usai kecelakaan di Indonesia dan Ethiopia. Foto: AFP

Kasus Kelalaian Boeing 737 MAX Berakhir dengan Kesepakatan Rp3,2 Triliun

Fajar Nugraha • 05 November 2021 15:52
Seattle: Media Amerika Serikat (AS) The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, pemegang saham manufaktur pesawat Boeing, telah mencapai penyelesaian di luar pengadilan senilai USD225 juta atau Rp3,2 Triliun.
 
Kesepakatan itu didapatkan dengan direktur pabrikan pesawat saat ini dan mantan direktur dalam kasus kelalaian keselamatan pesawat Boeing 737 MAX.
 
Pemegang saham menuduh anggota dewan Boeing dan beberapa eksekutif serta CEO saat ini David Calhoun gagal memastikan bahwa instrumen kontrol dan informasi pada 737 MAX berfungsi secara efektif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Wall Street Journal, kompensasi akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi, bukan anggota dewan dan eksekutif. Boeing juga telah setuju untuk menyewa seorang mediator untuk menangani masalah internal dan menunjuk perwakilan dewan dengan pengalaman keselamatan penerbangan.
 
“Perjanjian tersebut, yang diharapkan akan diajukan oleh Pengadilan Negeri Delaware pada Jumat, tidak akan mengharuskan Boeing untuk mengakui kelalaian atas nama orang yang digugat dalam kasus tersebut,” WSJ melaporkan, seperti dikutip AFP, Kamis 5 November 2021.
 
Pesawat Boeing jenis 737 MAX terlibat dalam dua kecelakaan. Satu dioperasikan oleh Lion Air pada Oktober 2018 dan lainnya oleh Ethiopian Airlines pada Maret 2019, yang menewaskan total 346 orang.
 
Investigasi mengungkapkan bahwa kedua insiden itu terkait dengan sistem pencegahan kecelakaan (MCAS).
 
Pengacara pemegang saham dan Boeing tidak segera menanggapi permintaan komentar dari AFP, mengenai kesepakatan ini.
 
Berdasarkan dokumen internal, pemegang saham mengatakan bahwa prosedur keselamatan yang tepat tidak diterapkan pada 737 MAX setelah kecelakaan 2018. Meskipun ada laporan media yang mengaitkan insiden tersebut dengan MCAS.
 
Dikembangkan pada 2011 dan diluncurkan pada 2017, 737 MAX dilarang terbang pada Maret 2019, sebelum dinyatakan aman lagi pada November 2020.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif