Dubes Darmansjah Djumala bahas kerja sama Indonesia-IAEA untuk daur ulang sampah plastik. Foto: KBRI Wina
Dubes Darmansjah Djumala bahas kerja sama Indonesia-IAEA untuk daur ulang sampah plastik. Foto: KBRI Wina

Indonesia-IAEA Kerja Sama Daur Ulang Sampah Plastik

Fajar Nugraha • 30 September 2021 13:04
Wina: Dalam kunjungan pamitannya (farewell call) kepada Dirjen Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA), Rafael Mariano Grossi, di Wina, Austria 27 September 2021, Dubes RI untuk Austria dan PBB, Darmansjah Djumala membicarakan kerja sama Indonesia-IAEA untuk mendaur ulang sampah plastik dengan menggunakan teknologi nuklir.
 
Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk bekerjasama dengan IAEA dalam pemanfaatan teknologi radiasi nuklir untuk mengatasi permasalahan limbah plastik.
 
Melalui implementasi proyek NUTEC Plastics yang digagas Dirjen IAEA Grossi, Indonesia akan mengembangkan pemanfaatan teknologi nuklir dalam sektor pengolahan limbah plastik menjadi bahan baku industri dengan nilai ekonomi tinggi, serta dalam sektor pemantauan mikro plastik di lautan. Kerja sama strategis ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara percontohan di kawasan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diungkapkan Dubes Djumala, kehadiran Menteri LHK RI, Siti Nurbaya dalam forum High Level Roundtable Discussion IAEA, Mei 2021, menunjukkan komitmen kuat pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan proyek NUTEC Plastics IAEA. Indonesia akan menjadi percontohan bagi negara lain dalam pemanfaatan teknologi nuklir dalam daur ulang limbah plastik untuk dimanfaatkan oleh industri.
 
Lebih lanjut, Dubes Djumala menyatakan kesiapan Pemerintah Indonesia untuk melibatkan peran sektor industri nasional dalam implementasi kerjasama ini, termasuk dalam tahap pengembangan dan transfer teknologi. Pelibatan ini akan menjamin teknologi yang dikembangkan akan sesuai dengan kebutuhan sektor industri nasional, serta menjamin pemanfaatannya secara berkelanjutan.
 
Dirjen IAEA dalam pertemuan ini menyampaikan apresiasi atas peran aktif yang diambil Indonesia dibawah kepemimpinan Dubes Djumala sejak tahap perencanaan proyek NUTEC Plastics. Indonesia dinilai telah memberikan masukan penting kepada IAEA, khususnya mengenai tantangan utama penanganan limbah plastik di kawasan yang dapat memberikan solusi bagi pengurangan limbah plastik di daratan.
 
Indonesia pun dianggap berkomitmen kuat dalam pembahasan teknis program yang ditargetkan mulai diimplementasi penuh pada awal tahun 2022.
 
Dalam kesempatan pertemuan dengan Deputi Dirjen IAEA bidang Aplikasi Nuklir, Najat Mokhtar, Dubes Djumala juga menyampaikan komitmen Indonesia melanjutkan pembahasan teknis implementasi kerja sama plastik dengan pelibatan pemangku kepentingan tingkat nasional dari lintas kementerian dan lembaga, serta sektor privat.
 
”Pemerintah Indonesia berkomitmen mengintegrasikan resource yang dimiliki untuk mendukung implementasi kerjasama ini, melalui peran aktif kementerian dan lembaga pada sektor terkait. Komitmen ini akan dilanjutkan dengan pelibatan sektor industri nasional sejak tahap pengembangan dan transfer teknologi,” imbuh Djumala kepada Deputi Dirjen IAEA, dikutip dari keterangan tertulis KBRI Wina, yang diterima Medcom.id, Kamis 30 September 2021.
 
Deputi Dirjen IAEA menyampaikan apresiasi atas inisiatif aktif Indonesia dibawah kepemimpinan Dubes Djumala, khususnya dalam mendorong keterlibatan sektor industri dalam implementasi proyek NUTEC Plastics. Keterlibatan industri nasional dalam transfer teknologi merupakan tahapan yang sangat esensial yang memastikan teknologi nuklir dapat digunakan dalam rantai produksi plastik secara berkelanjutan.
 
Lebih jauh Najat Mokhtar mengatakan pihaknya telah menerima masukan dari para pakar nuklir Indonesia bahwa teknologi yang akan digunakan akan mampu mendorong produksi komoditas plastik bernilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan, seperti material konstruksi dan bangunan modern.
 
Indonesia telah menyampaikan rencana kerja implementasi program NUTEC Plastics kepada IAEA dalam dua lingkup area, yaitu untuk pengolahan limbah plastik daratan menjadi bahan baku industri dengan nilai ekonomi tinggi serta  limbah mikroplastik di lingkungan laut. Kedua area kerja sama ini memiliki potensi menjadikan Indonesia sebagai mitra strategis IAEA di kawasan khususnya sebagai negara percontohan bagi negara-negara lain.

 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif