Musyarawah Besar Pertama Perhimpunan Eropa Untuk Indonesia Maju (PETJ) di Budapest, Hungaria. (Foto: Andi Tinellung)
Musyarawah Besar Pertama Perhimpunan Eropa Untuk Indonesia Maju (PETJ) di Budapest, Hungaria. (Foto: Andi Tinellung)

Diaspora Indonesia di Eropa Diskusikan Pandemi Covid-19

Andi Tinellung • 09 Mei 2020 08:00
Berlin: Tinggal di rumah bukan berarti berhenti dari berbagai aktivitas. Baru-baru ini, diaspora Indonesia di Eropa yang tergabung dalam wadah Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju atau PETJ, menggelar bincang virtual tentang virus korona (covid-19) dengan menggunakan sarana media aplikasi Zoom.
 
Dalam keterangan PETJ kepada Medcom.id, Nawi Ng, seorang epidemiologis dari University of Gothenburg, Swedia, menjelaskan bagaimana covid-19 menjadi pandemi, komposisi karakteristik gender, perilaku, perjalanan lintas batas, hingga perkembangan terkini termasuk interverensi yang dilakukan berbagai negara. Nawi yang juga mantan dosen UGM ini menyinggung beberapa skenario yang dapat terjadi.
 
Acara yang dimoderasi oleh Nur Pamungkas Manirjo, diaspora Indonesia di Hamburg, Jerman, ini menjadi semakin menarik saat memasuki sesi diskusi dengan peserta. Misalnya Bucek Lie, diaspora Indonesia yang bermukim di negara bagian California, Amerika Serikat, menyampaikan bahwa terdapat sejumlah WNI yang telah menjadi korban di pesisir barat dan timur AS.

Dono Widiatmoko, dosen senior di University of Derby UK yang juga pengurus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, memberikan informasi ketersediaan alat tes PCR yang hanya berjumlah 41 sangatlah kurang, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang besar. Tes PCR diketahui memberikan hasil deteksi dan data yang lebih akurat. Dono juga mengungkapkan rendahnya angka penderita covid-19 di Afrika adalah karena kurangnya alat deteksi. 
 
Susanti Kwan, peneliti biologi molekular dari Nottingham, Inggris, menanyakan tentang penerapan kekebalan komunitas (herd immunity) di Swedia dibandingkan dengan negara lainnya yang menerapkan kebijakan penguncian wilayah (lockdown). Nawi menyampaikan strategi yang ditempuh Swedia serta mengutip pendapat dari Johan Giesecke dari Karolinska Institute Swedia bahwa nanti pada akhirnya, jumlah kasus akan sama antara negara yang menerapkan lockdown dan tidak.
 
Ari Manik, diaspora Indonesia di Austria yang juga Ketua Umum PETJ, mengharapkan para ilmuwan kelak dapat melakukan kajian pola yang dapat mempelajari peluang munculnya epidemi. Mengenai hal tersebut, Nawi menanggapi bahwa yang paling penting adalah mempersiapkan kemampuan deteksi dini sebaik mungkin. Dengan deteksi dini, aksi dan interverensi dapat dilakukan secara cepat.
 
Sementara itu Yohana Pariury, WNI di Portugal, mempertanyakan apakah virus covid-19 bisa menghilang dengan sendirinya. Nawi tidak bisa memprediksinya, tapi berkaca dari kasus virus Zika yang menjadi wabah di Brasil, virus itu hilang dengan sendirinya. 
 
Bambang Ponco yang tinggal di Belanda menyampaikan keprihatinannya atas banyaknya informasi di Indonesia yang dinilainya justru menakut-nakuti masyarakat.
 
Nawi menekankan pentingnya pendeteksian cepat, isolasi diri, dan penelusuran untuk meredam penyebaran penularan covid-19. Ia juga menekankan pentingnya melakukan isolasi terhadap kelompok beresiko tinggi. Moderator juga menyampaikan pesan agar kita mempersiapkan diri untuk hidup berdampingan dengan covid-19.
 
Acara bincang virtual diikuti oleh warga Indonesia dari berbagai negara di Eropa, Amerika dan Indonesia, yang disiarkan secara langsung melalui layanan Youtube dan Facebook PETJ.
 
Sebagai sebuah perhimpunan, penyelenggara berharap dapat mengadakan kegiatan penyampaian informasi lanjutan untuk masyarakat Indonesia di Eropa maupun kegiatan yang memberikan kontribusi positif untuk kemajuan Indonesia.
 
Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WIL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan