Alat tes napas umumnya digunakan untuk mendeteksi kadar alkohol. FDA kini izinkan alat tes covid-19 dengan sampal napas. Foto: AFP
Alat tes napas umumnya digunakan untuk mendeteksi kadar alkohol. FDA kini izinkan alat tes covid-19 dengan sampal napas. Foto: AFP

AS Beri Izin Penggunaan Alat Tes Covid-19 dengan Sampel Napas

Internasional Amerika Serikat covid-19 FDA Tes Covid-19
Fajar Nugraha • 15 April 2022 14:06
Washington: Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan otorisasi penggunaan darurat untuk tes diagnostik covid-19 pertama menggunakan sampel napas.
 
“Melalui InspectIR Covid-19 Breathalyzer, tes dapat dilakukan di lingkungan di mana spesimen pasien dikumpulkan dan dianalisis, menggunakan instrumen seukuran barang bawaan,” kata FDA, seperti dikutip TRT, Jumat 15 April 2022.
 
“tes dapat dilakukan di lingkungan seperti kantor dokter, rumah sakit, dan tempat pengujian seluler, menggunakan instrumen seukuran barang bawaan," sebut FDA.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tes dilakukan oleh operator terlatih yang berkualifikasi di bawah pengawasan penyedia layanan kesehatan yang berlisensi atau disahkan oleh undang-undang negara bagian untuk meresepkan tes dan dapat memberikan hasil dalam waktu kurang dari tiga menit," tambahnya.
 
Jeff Shuren, Direktur Pusat Perangkat dan Kesehatan Radiologi FDA, mengatakan otorisasi adalah contoh lain dari inovasi cepat yang terjadi dengan tes diagnostik untuk covid-19.
 
"FDA terus mendukung pengembangan tes covid-19 baru dengan tujuan memajukan teknologi yang dapat membantu mengatasi pandemi saat ini dan memposisikan AS dengan lebih baik untuk keadaan darurat kesehatan masyarakat berikutnya," ucap Shuren.

Akurasi tinggi

Inspektur Covid-19 Breathalyzer menggunakan teknik yang disebut kromatografi gas spektrometri massa gas (GC-MS) untuk memisahkan dan mengidentifikasi campuran kimia.
 
FDA mengatakan bahwa 2.409 orang berpartisipasi dalam studi InspectIR Covid-19 Breathalyzer termasuk mereka yang memiliki dan tanpa gejala.
 
"Dalam studi tersebut, tes tersebut terbukti memiliki sensitivitas 91,2 persen (persentase sampel positif yang diidentifikasi dengan benar) dan spesifisitas 99,3 persen (persentase sampel negatif yang diidentifikasi dengan benar)," imbuh pernyataan itu.
 
Studi yang dipimpin FDA mencatat bahwa dalam populasi dengan hanya 4,2 persen individu yang positif terkena virus, tes tersebut memiliki nilai prediksi negatif 99,6 persen yang menunjukkan bahwa jika tes mereka negatif, kemungkinan besar mereka negatif.
 
“Tes dilakukan dengan sensitivitas yang sama dalam studi klinis lanjutan yang berfokus pada varian Omicron,” pungkas FDA.

 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif