Menlu AS Mike Pompeo tolak pencabutan embargo senjata Iran. Foto: AFP
Menlu AS Mike Pompeo tolak pencabutan embargo senjata Iran. Foto: AFP

AS Tetap Paksakan Embargo Senjata ke Iran Secara Sepihak

Internasional amerika serikat iran Mike Pompeo
Fajar Nugraha • 19 Oktober 2020 06:46
Washington: Embargo senjata Iran resmi dicabut pada 18 Oktober 2020. Namun Amerika Serikat (AS) menolak hal itu dan secara sepihak memaksakan bahwa embargo senjata tetap berlaku.
 
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam keterangan resmi Kemenlu AS 18 Oktober 2020, memaparkan alasannya untuk tetap menerapkan sanksi tersebut. Meskipun pada dasarnya AS sudah tidak pantas untuk melakukan protes atas keputusan PBB itu.
 
Baca: Iran Tak Akan Beli Senjata Meski Embargo DK PBB Berakhir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Embargo senjata Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang diterapkan pada 2007 dijadwalkan berakhir Minggu. Embargo tersebut sejalan dengan perjanjian nuklir 2015 yang disepakati Iran dengan Rusia, Tiongkok, Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat sendiri.
 
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018.
 
Agustus lalu, pemerintahan Trump memicu sebuah proses yang bertujuan mengembalikan sanksi PBB terhadap Iran. Langkah itu diambil usai DK PBB menolak permintaan AS untuk memperpanjang embargo senjata Iran.
 
“Pada 19 September, hampir semua sanksi PBB terhadap Iran dikembalikan, termasuk penerapan ulang embargo senjata PBB. Karenanya, ekspor senjata konvensional tertentu ke Iran merupakan pelanggaran Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSCR) 1929 dan pengadaan senjata atau material terkait dari Iran merupakan pelanggaran UNSCR 1747,” sebut Menlu Pompeo, dalam keterangan tertulis Kemenlu AS, yang diterima Medcom.id, Senin 19 Oktober 2020.
 
“Amerika Serikat siap menggunakan otoritas domestiknya memberikan sanksi kepada individu atau entitas mana pun yang secara material berkontribusi pada pasokan, penjualan, atau transfer senjata konvensional ke atau dari Iran. Serta mereka yang memberikan pelatihan teknis, dukungan dan layanan keuangan, dan bantuan lain yang terkait dengan senjata ini,” tegas Pompeo.
 
Pompeo menambahkan setiap negara yang menginginkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah dan mendukung perang melawan terorisme harus menahan diri dari transaksi senjata apa pun dengan Iran. Memberikan senjata ke Iran hanya akan memperburuk ketegangan di kawasan itu, menempatkan senjata yang lebih berbahaya ke tangan kelompok dan proksi teroris.
 
“Hal itu juga berisiko meningkatkan ancaman terhadap keamanan Israel dan negara-negara damai lainnya,” ucap Pompeo.

 
Selama 10 tahun terakhir, negara-negara menahan diri untuk tidak menjual senjata ke Iran di bawah berbagai tindakan PBB. Setiap negara yang sekarang menentang larangan ini akan dengan sangat jelas memilih untuk menyulut konflik dan ketegangan daripada mempromosikan perdamaian dan keamanan.
 
Setiap negara yang menjual senjata ke Iran sedang memiskinkan rakyat Iran dengan memungkinkan rezim mengalihkan dana dari rakyat dan menuju tujuan militer rezim. Rezim memiliki pilihan: dapat mengejar pembelian senjata yang melanggar langkah-langkah sanksi PBB, atau rezim dapat menggunakan dananya untuk memenuhi kebutuhan rakyat Iran.
 
Hari ini, Iran menderita karena pemerintahannya terus menahan hampir USD1 miliar dari Kementerian Kesehatan Iran untuk tanggapan covid-19, meskipun ada seruan dari pejabat kesehatan Iran untuk menyediakan dana yang dibutuhkan.
 
Pemerintah Iran bertanggung jawab atas konsekuensi dari bagaimana ia mengalokasikan sumber daya rakyat Iran. Puluhan tahun korupsi dan kebijakan radikal oleh para pemimpin rezim bertanggung jawab atas kerusakan sebuah negara besar.
 
“Kami berdiri bersama rakyat Iran melawan tirani, pemborosan sumber daya mereka, dan upaya pemerintah Iran untuk menghancurkan perjuangan mereka untuk kebebasan,” imbuh Pompeo.
 
Amerika Serikat menurut Pompeo, menginginkan perdamaian dengan Iran dan mengharapkan hari ketika para pemimpinnya berbagi tujuan itu. Ketika para pemimpin pemerintah Iran meninggalkan impian mereka untuk mengekspor revolusi, mereka akan menemukan mitra yang ramah dan murah hati di Washington.

Tak beli senjata

Setelah dicabutnya embargo senjata untuk Iran, pemerintahan Presiden Hassan Rouhani menegaskan tidak akan beli senjata.
 
Iran menegaskan, pihaknya memiliki pertahanan mumpuni sehingga tidak perlu terlalu banyak berbelanja senjata.
 
"Doktrin pertahanan Iran erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap masyarakat dan kemampuan dalam negeri," ucap pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.
 
"Senjata jenis non-konvensional, senjata penghancur massa, atau berbelanja senjata dalam jumlah besar tidak termasuk dalam doktrin pertahanan Iran," sambungnya, dilansir dari lamanFrance 24.
 
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan, normalisasi kerja sama pertahanan Iran dengan dunia hari ini merupakan sebuah kemenangan bagi multilateralisme dan perdamaian serta keamanan di kawasan.
 
(OGI)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif