Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaitkan Deklarasi dan Program Aksi Durban (DPPA) dengan pandemi covid-19. Foto: UNTV
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaitkan Deklarasi dan Program Aksi Durban (DPPA) dengan pandemi covid-19. Foto: UNTV

Menlu Soroti Ketimpangan Distribusi Vaksin Covid-19 Negara Maju dengan Afrika

Yogi Bayu Aji • 23 September 2021 03:16
New York: Pada peringatan 20 tahun Durban Declaration and Plan of Action atau Deklarasi dan Program Aksi Durban (DPPA), dilaksanakan pertemuan tingkat tinggi di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengaitkan deklarasi mengenai diskriminasi itu dengan kondisi pandemi covid-19 saat ini.
 
Menlu Retno menjabarkan bahwa pandemi covid-19 telah menghadapkan semua pihak dengan bentuk baru dari ketidaksetaraan dan diskriminasi.
 
Baca: Indonesia Tegaskan Ketidaksetaraan Vaksin Adalah Diskriminasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


DDPA menurut Retno memberikan dunia isu utama yang membantu untuk mengatasi segala bentuk diskriminasi selama pandemi ini. Setidaknya dalam tiga bentuk:
 
Pertama, dalam mengatasi ketidaksetaraan dan diskriminasi. Hampir 6 miliar dosis vaksin covid-19 tersedia, tetapi baru sekitar 2 persen yang sudah disuntikkan ke Afrika. Hal ini berbanding jauh jika dilihat dari sekitar 80 persen di negara dengan pendapatan menengah hingga negara kaya, yang masyarakatnya sudah tervaksinasi.
 
“Kondisi ini menunjukkan ketidaksetaraan yang mendalam dalam respons pandemi kita. Diskriminasi terhadap jenis vaksin tertentu juga memperlebar jarak ketidaksetaraan dan menciptakan pemulihan yang tidak setara,” ujar Menlu Retno Marsudi dalam pertemuan di markas PBB, di New York Rabu 22 September 2021 atau Kamis 23 September dini hari waktu Indonesia.
 
“Pada saat kritis ini, kesetaraan vaksin adalah ujian moral terbesar bagi komunitas dunia. Kita harus memastikan bahwa semua orang dimanapun bisa disuntik vaksin secepatnya,” tuturnya.
 
Kedua, dalam mempromosikan solidaritas. DDPA mendorong dunia untuk bertindak melawan pelanggaran atas solidaritas. Tindakan unilateral tentunya tidak akan membantu sama sekali.
 
Menlu menambahkan bahwa tidak ada satupun negara yang bisa menghadapi pandemi seorang diri. Ini waktunya mengesampingkan perbedaan dan fokus energi untuk menghadapi pandemi secara bersama.
 
Ketiga, melawan misinformasi. Selama pandemi, banyak sekali misinformasi yang beredar sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Ini menunjukkan kebingungan dan kebencian dalam masyarakat. Sayangnya, kondisi ini justru banyak yang tidak terpecahkan.
 
“Persatuan dan respons terhadap pandemi yang terancam, kerja sama internasional yang erat sangat dibutuhkan untuk menyediakan informasi yang akurat untuk mencegah misinformasi,” ungkapnya.
 
Sebagai penutup Menlu perempuan pertama Indonesia itu menegaskan bahwa inti dari DDPA akan terus diuji sepanjang waktu. Saat ini tantangan covid-19, esok hari tantangan lain menunggu.
 
“Jika kita berhasil (menghadapi covid-19) akan menjadi bukti bahwa DDPA akan tetap relevan dalam menghadapi tantangan di masa kita untuk meraih dunia yang terbebas dari berbagai bentuk diskriminasi,” pungkas Menlu Retno.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif