Presiden Emmanuel Macron saat mengunjungi lokasi terorisme di Nice. Foto: AFP
Presiden Emmanuel Macron saat mengunjungi lokasi terorisme di Nice. Foto: AFP

Usai Dihantam Serangan Teror, Prancis Tingkatkan Pengawasan Perbatasan

Internasional prancis Kartun Nabi Muhammad Emmanuel Macron
Fajar Nugraha • 06 November 2020 11:13
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Prancis memperkuat pengawasan perbatasannya setelah serangkaian serangan teroris yang melanda negara itu dalam beberapa pekan terakhir.
 
Macron mengatakan jumlah polisi dan pasukan yang bertanggung jawab atas pengawasan perbatasan akan berlipat ganda dari 2.400 sekarang menjadi 4.800. Mereka akan fokus memerangi kegiatan imigrasi dan penyelundupan ilegal.
 
“Kami melihat dengan sangat jelas bahwa aksi teroris sebenarnya dapat dipimpin oleh beberapa orang yang menggunakan arus migrasi untuk mengancam wilayah kami. Jadi kami harus memperkuat kontrol kami untuk alasan keamanan nasional,” kata Macron, selama kunjungan ke pos perbatasan di Le Perthus, di perbatasan dengan Spanyol.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Macron secara khusus merujuk pada serangan ekstremis di Notre Dame Basilica di kota Nice yang menewaskan tiga orang pekan lalu. Tersangka utama, Ibrahim Issaoui, adalah seorang Tunisia berusia 21 tahun yang transit melalui Italia pada bulan September dalam perjalanan ke Prancis. Issaoui sekarang berada di rumah sakit Prancis setelah terluka oleh polisi saat mereka menangkapnya.
 
Selain itu, Macron mengatakan dia akan mendorong perubahan untuk membuat kontrol di perbatasan eksternal Uni Eropa lebih efisien.
 
"Serangan di Prancis, di Austria beberapa hari lalu di Wina, menunjukkan kepada kita bahwa risiko teroris ada di mana-mana, bahwa jaringan (teroris) bersifat global yang memaksa Eropa untuk meningkatkan tanggapannya," imbuh Macron, seperti dikutip AFP, Jumat 6 November 2020.
 
Prancis akan mempresentasikan proposalnya pada KTT Eropa pada Desember. Negara itu menaikkan kewaspadaan keamanannya ke tingkat maksimum setelah serangan Nice pada 29 Oktober.
 
Itu adalah serangan ketiga sejak Charlie Hebdo menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada September saat persidangan dibuka untuk serangan tahun 2015 di kantor surat kabar dan supermarket halal. Pelaku bersenjata dalam serangan itu mengaku setia kepada kelompok Islamic State dan Al Qaeda, yang keduanya baru-baru ini menyerukan serangan baru terhadap Prancis.
 
Herve Cazaux, Direktur polisi perbatasan di wilayah Le Perthus, mengatakan polisi telah menangkap 11.200 orang yang berusaha menyeberangi perbatasan Prancis-Spanyol secara ilegal sepanjang tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan 5.500 tahun lalu.
 
“Ini sebagian dijelaskan oleh penguncian pandemi musim semi Prancis, di mana perbatasan ditutup hingga 20 Juni, dan dengan peningkatan jumlah migran musim panas ini, banyak yang bepergian melalui Spanyol dari Aljazair dan Maroko,” pungkas Cazaux.

 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif