Debat capres Prancis antara Emmanuel Macron dengan Marine Le Pen. Foto: AFP
Debat capres Prancis antara Emmanuel Macron dengan Marine Le Pen. Foto: AFP

Lawan Politik Ingin Larang Jilbab, Presiden Prancis Ingatkan Risiko Perang Saudara

Internasional prancis hijab pemilu prancis Emmanuel Macron Marine Le Pen
Fajar Nugraha • 21 April 2022 17:05
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa lawan politiknya dari sayap kanan, Marine Le Pen berisiko memicu ‘perang saudara’ jika dia terpilih. Ini terkait dengan rencananya untuk melarang penggunaan jilbab bagi Muslim di depan umum.
 
Selama debat presiden yang disiarkan televisi, Le Pen menegaskan bahwa dia mendukung ide kontroversialnya untuk melarang jilbab, yang dia sebut "seragam yang dikenakan oleh Islamis", tetapi dia mengatakan dia tidak "berperang melawan Islam."
 
"Anda akan menyebabkan perang saudara. Saya mengatakan ini dengan tulus,” komenter Macron menanggapi Le Pen, seperti dikutip AFP, Kamis 21 April 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Prancis menghadapi pilihan yang sulit dalam putaran kedua putaran kedua pemilu pada Minggu antara Macron yang berhaluan tengah dan Le Pen yang antiimigrasi. Perempuan berusia 53 tahun itu tengah berusaha menjadi kepala negara sayap kanan pertama negara itu dalam hasil yang akan mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh Eropa.
 
Ada sedikit keramahan dalam debat langsung yang disiarkan televisi selama tiga jam. Macron berulang kali berusaha untuk menjatuhkan Le Pen atas rekornya, sementara dia berusaha untuk tetap fokus pada kinerja pemerintah.
 
Tidak hanya jilbab, Le Pen juga bersumpah untuk mengakhiri imigrasi "anarkis dan besar-besaran ke Prancis”, mengklaim itu memperburuk kejahatan yang katanya “menjadi tak tertahankan" bagi orang-orang di seluruh negeri.
 
Dalam lima tahun sebagai presiden, Macron telah dituduh memberlakukan kebijakan Islamofobia atas nama sekularisme Prancis, sebagian menggunakan undang-undang anti-separatisme yang disetujui tahun lalu.
 
Prancis melarang wanita dan gadis Muslim mengenakan jilbab di sekolah pada 2004. Muncul juga aturan yang melarang pemakaian niqab atau burqa di depan umum pada 2011.
 
Dengan invasi Rusia ke Ukraina yang membayangi kampanye tersebut, Macron dengan marah memusatkan perhatian pada pinjaman yang diambil partai Le Pen dari bank Ceko-Rusia menjelang kampanye pemilihannya tahun 2017.
 
"Anda bergantung pada pemerintah Rusia dan Anda bergantung pada Tuan (Presiden Rusia Vladimir) Putin. Ketika Anda berbicara dengan Rusia, Anda berbicara dengan bankir Anda,” tegasnya.
 
Macron juga merujuk pada pengakuan masa lalu Le Pen atas pencaplokan Rusia atas semenanjung Krimea pada tahun 2014. "Kenapa kamu melakukan ini?" Dia bertanya.
 
Le Pen menjawab bahwa dia adalah "seorang wanita yang benar-benar bebas", dengan alasan bahwa partainya hanya mengambil pinjaman itu karena tidak dapat menemukan pembiayaan di Prancis di mana bank menolak untuk meminjamkan kepadanya.
 
Macron mengadopsi berbagai pose untuk mengekspresikan skeptisisme pada argumennya, mengangkat alisnya, menyandarkan dagunya di kepalan tangannya dan meratap dengan kebingungan, "Nyonya Le Pen... Madame Le Pen!"
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif