Raja Charles III (kiri) bersama anak pertamanya, Pangeran William. (Justin Setterfield / POOL / AFP)
Raja Charles III (kiri) bersama anak pertamanya, Pangeran William. (Justin Setterfield / POOL / AFP)

Ini yang Terjadi Bila Raja Charles III Berikan Takhta ke Pangeran William

Medcom • 27 September 2022 09:34
London: Raja Charles III belum menyatakan bahwa ia pernah berencana untuk meninggalkan tahtanya. Namun, mengingat usia dan popularitasnya rendah yang ia miliki secara historis di Inggris, hal tersebut tetap menjadi kemungkinan.
 
Media Insider berkesempatan berbicara dengan seorang sejarawan kerajaan tentang apa yang akan terjadi jika Charles mengundurkan diri sebagai raja.
 
Dari luar, pemerintahan Raja Charles III tampaknya telah dimulai dengan sangat baik. Bahkan dalam pidato pertamanya, dirinya telah menyatakan niatnya untuk mengikuti jejak ibunya dengan sangat jelas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Seperti yang dilakukan Sang Ratu sendiri dengan pengabdian yang tak tergoyahkan, saya juga sekarang dengan sungguh-sungguh berjanji pada diri saya sendiri, waktu tersisa yang Tuhan berikan kepada saya, akan digunakan untuk menegakkan prinsip-prinsip konstitusional di hati bangsa kita," ujar Charles, seperti dikutip dari laman Yahoo News, pada Senin, 26 September 2022.
 
Charles, yang saat ini berusia 73 tahun, adalah individu tertua yang menjadi raja dalam sejarah Inggris. Pada tahun-tahun sebelum Ratu Elizabeth II meninggal, muncul spekulasi bahwa Elizabeth mungkin mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepada Charles.
 
Konon, Charles menghabiskan berdekade-dekade sebagai seorang pangeran untuk melihat popularitasnya di kalangan publik hampir hancur. Hal ini terutama terjadi setelah perceraiannya dengan Putri Diana pada tahun 1996. 
 
Hancurnya popularitas Charles ini makin diperjelas dengan jajak pendapat Newsweek pada tahun 2021. Perceraian tersebut menyebabkan keinginan di antara kalangan publik di Inggris agar Pangeran William yang menggantikan Ratu Elizabeth II, bukan ayahnya.
 
Insider pun akhirnya berbicara dan menanyakan kepada para ahli kerajaan tentang apa yang akan terjadi jika Charles mengundurkan diri serta apa artinya bagi masa depan monarki.

Charles tidak bisa begitu saja turun dari takhta 

Menurut sejarawan kerajaan Marlene Koenig kepada Insider, ada dua skenario di mana Charles masih hidup tetapi tidak lagi menjadi raja. 
 
Yang pertama datang di bawah Undang-Undang Daerah atau Kabupaten. Hal ini dapat dipicu jika Charles tidak mampu secara fisik, yang berarti dia tidak bisa lagi berbicara atau bergerak.
 
Namun untuk hal tersebut, ketidakmampuan raja untuk melaksanakan tugas mereka juga harus disertifikasi oleh berbagai orang termasuk pasangan mereka, menurut Dr. Bob Morris, peneliti kehormatan senior di Unit Konstitusi UCL (University College London).
 
Jika itu terjadi, penerus berikutnya, yaitu Pangeran William akan menjadi bupati. 
 
"Dia mengambil alih dan memiliki semua kekuasaan raja, kecuali beberapa hal yang dilindungi undang-undang," ujar Morris.
 
Akan tetapi, ada skenario lain yang lebih kontroversial, yaitu turun takhta. Koenig sendiri mengatakan bahwa hal itu sangat tidak mungkin terjadi mengingat niat Charles untuk mengikuti jejak ibunya.
 
Bagaimanapun juga, turun takhta adalah proses yang kompleks. Charles tidak bisa begitu saja memutuskan bahwa dirinya akan turun tahta. 
 
Koenig mengatakan bahwa untuk meresmikan penurunan ini, pertama-tama dia membutuhkan Parlemen Inggris untuk meloloskan Undang-Undang Pengunduran Diri.
 
"Dia tidak bisa begitu saja berkata, 'Oke, ini milikmu, William.' Tidak. Penggantian takhta diatur oleh parlemen," ujar Koenig. 
 
Namun, di sisi lain, Morris mengatakan jika Charles benar-benar ingin mundur, dia bisa saja melakukannya. 
 
"Faktanya adalah jika dia ingin pergi, tidak ada yang bisa menghentikannya. Tapi setidaknya hukum bisa mengatur penggantian sah William," ujar Morris.
 
Baca:  Kesedihan Keluarga Kerajaan Inggris Saat Hadiri Pemakaman Ratu

Turun takhta akan menggeser seluruh garis pewarisan takhta selanjutnya

Salah satu konsekuensi dari seorang raja yang mengundurkan diri adalah bahwa setiap bangsawan lain yang ada dalam garis pewarisan tahta resmi mendapatkan kedudukan atau tempat, maka mereka meninggalkan beberapa pewarisan lainnya dengan lebih banyak tugas, gelar, serta tanggung jawab.
 
Jadi, jika Charles mengundurkan diri, William akan menjadi raja dan putranya, Pangeran George, akan mewarisi Kadipaten Cornwall. Warisan itu sendiri terdiri dari portofolio besar tanah milik pribadi dan aset yang diperkirakan mencapai 1 miliar USD pada bulan Maret, menurut The Guardian.
 
"Jika Anda (Charles) turun tahta, maka Anda akan memiliki Duke of Cornwall yang masih kecil yang akan menjadi seperti Pangeran Charles di tahun-tahun awal pemerintahan ibunya," ujar Koenig.
 
Koenig menambahkan bahwa pergeseran yang tiba-tiba akan memberi tekanan pada William dan putranya. Hal ini dikarenakan mereka hanya memiliki sebagian kecil waktu saja dari yang Charles punyai untuk mempersiapkan pekerjaan teratas di monarki.
 
"Mengapa Anda membebani William yang belum memiliki keahlian secara total? Dia hanya dalam beberapa tahun terakhir menghadiri pertemuan Duchy (Tanah milik Duke atau bangsawan) of Cornwall untuk belajar bagaimana menjalankannya," tambah Koenig.
 
Koenig berkata, terakhir kali seorang raja mengundurkan diri, hal itu dilihat sebagai ‘melalaikan tugas'
 
Meski turun tahta tampaknya telah menjadi pilihan populer di kalangan keluarga kerajaan Eropa lainnya, seperti di Spanyol dan Belanda, di Inggris hal itu masih dianggap tabu.
 
Mengenai alasannya, Morris menunjukkan pada sumpah agama para raja dan ratu pada tempat-tempat di mana pengunduran diri agak tidak disukai. 
 
"Para raja dan ratu kita sendiri harus menjadi anggota agama tertentu dan mereka merasa bahwa mereka membuat sumpah agama dan bahwa mereka harus mematuhinya," ujar Morris.
 
Sementara itu, Koenig mengatakan bahwa pengunduran diri secara fundamental tidak sejalan dengan nilai-nilai Inggris. 
 
"Itu bukan sifat Inggris," ujarnya. 
 
Selain itu, Morris berkata bahwa tidak ada raja Inggris dalam sejarah yang pernah turun tahta secara sukarela, hingga pada masa Raja Edward VIII, paman Ratu Elizabeth II.
 
Ketika Edward melakukannya, Koenig mengatakan ada keributan pada saat itu. 
 
"Sampai hari ini, apa yang dilakukan Edward kepada keluarga kerajaan, itu dilihat sebagai kelalaian tugas. Itu jelas merupakan krisis konstitusional," ujar Koenig.
 
Namun Koenig juga mengatakan bahwa penting untuk diingat bahwa Inggris pada tahun 1930-an adalah lanskap politik dan sosial yang jauh berbeda dari masa sekarang. 
 
"Anda memiliki Hitler yang sudah bernapas di leher Anda. Anda memiliki Uni Soviet dan Anda juga memiliki Oswald Mosley dan fasis Inggris. Itu bukan hanya seorang raja yang menyerah.", tambah Koenig. 
 
Ia juga menambahkan bahwa pada tahun 1936, turun tahta adalah cara parlemen untuk menyelamatkan monarki dan memastikan kelangsungannya di bawah Ratu Elizabeth II. Maka dari itu, ketika berbicara tentang pemerintahan Charles sebagai raja, Koenig mengatakan turun tahta kemungkinan hanya akan menjadi pilihan dalam keadaan yang sama.
 
"Sesuatu harus terjadi, dan hal itu harus menjadi skandal besar yang besar," ujarnya. (Gabriella Carissa Maharani Prahyta)
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif