Pelabuhan Beirut, Lebanon yang hancur akibat ledakan pada 4 Agustus 2020. Foto: AFP
Pelabuhan Beirut, Lebanon yang hancur akibat ledakan pada 4 Agustus 2020. Foto: AFP

Bahan Penyebab Ledakan Beirut Berasal dari Kargo Rusia

Internasional Ledakan Lebanon
Fajar Nugraha • 07 Agustus 2020 15:58
Moskow: Bahan kimia yang terbakar dalam ledakan di Beirut, Lebanon, tiba tujuh tahun lalu dengan kapal kargo sewaan Rusia. Menurut kapten kapalnya, seharusnya mereka tidak pernah berhenti di Beirut
 
"Mereka serakah," kata Boris Prokoshev, Kapten Rhosus pada 2013 ketika dia mengatakan bahwa pemiliknya menyuruhnya untuk berhenti tidak terjadwal di Lebanon untuk mengambil kargo ekstra.
 
Prokoshev mengatakan kapal itu membawa 2.750 ton bahan kimia yang sangat mudah terbakar dari Georgia ke Mozambik. Namun perintah datang untuk mengalihkan kargo itu ke Beirut dalam perjalanan melalui Mediterania.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Awak diminta untuk memuat beberapa peralatan jalan berat dan membawanya ke Pelabuhan Aqaba di Yordania. Kemudian kapal rencananya melanjutkan perjalanan mereka ke Afrika, di mana amonium nitrat akan dikirim ke pabrik bahan peledak.
 
Tetapi kapal itu tidak pernah meninggalkan Beirut, setelah mencoba dan gagal memuat kargo tambahan dengan aman. Mereka bahkan terlibat dalam perselisihan hukum yang berkepanjangan mengenai biaya pelabuhan.
 
"Itu tidak mungkin. Kargo tambahan itu bisa menghancurkan seluruh kapal dan saya menolaknya,” ujar pelaut berusia 70 tahun itu, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat 7 Agustus 2020.
 
Dari rumahnya di kota resor Sochi, Rusia Sochi kapten dan pengacara menuduh pemilik kapal meninggalkan kapal dan ditahan oleh pihak berwenang Lebanon. Beberapa bulan kemudian, demi alasan keamanan, amonium nitrat diturunkan dan disimpan di gudang dermaga.
 
Pada Selasa, timbunan itu terbakar dan meledak tidak jauh dari area pemukiman kota yang dibangun. Ledakan besar itu menewaskan 145 orang, melukai 5.000 orang, meratakan bangunan dan membuat lebih dari seperempat juta orang kehilangan tempat tinggal.
 
Kapal itu mungkin berhasil meninggalkan Beirut, seandainya berhasil memuat kargo tambahan. Awak telah menumpuk peralatan, termasuk ekskavator dan penggiling jalan, di atas pintu ke ruang kargo yang menyimpan amonium nitrat di bawah, menurut kepala kapal Rusia, Boris Musinchak. Tapi pintu penahannya tertekuk.
 
"Kapal itu sudah tua dan penutup pegangannya bengkok. Kami memutuskan untuk tidak mengambil risiko,” ujar Musinchak.
 
Kapten dan tiga awak kapal menghabiskan 11 bulan di kapal tanpa upah dan dengan persediaan makanan yang terbatas. Begitu mereka pergi, amonium nitrat diturunkan.
 
"Kargo itu sangat eksplosif. Itulah mengapa ia disimpan di kapal saat kami berada di sana. Amonium nitrat itu memiliki konsentrasi yang sangat tinggi," tegas Prokoshev.

Tujuan Mozambik


Prokoshev mengidentifikasi pemilik kapal sebagai pengusaha Rusia Igor Grechushkin. Upaya untuk menghubungi Grechushkin tidak berhasil.
 
Amonium nitrat dijual oleh pembuat pupuk Georgia Rustavi Azot, dan akan dikirim ke pembuat bahan peledak Mozambik, Fabrica de Explosivos.
 
Levan Burdiladze, direktur pabrik Rustavi Azot bahwa perusahaannya hanya mengoperasikan pabrik kimia tersebut selama tiga tahun terakhir sehingga dia tidak dapat memastikan apakah amonium nitrat diproduksi di sana.
 
“Keputusan untuk menyimpan materi di pelabuhan Beirut sebagai pelanggaran berat terhadap langkah-langkah penyimpanan yang aman. Mengingat amonium nitrat kehilangan keguanaanya dalam enam bulan,” tutur Burdiladze.
 
Investigasi awal Lebanon ke apa yang terjadi telah menunjukkan tidak adanya tindakan dan kelalaian dalam penanganan bahan kimia yang berpotensi berbahaya. Kabinet Lebanon pada Rabu setuju untuk menempatkan semua pejabat pelabuhan Beirut yang telah mengawasi penyimpanan dan keamanan sejak 2014 dihukum tahanan rumah.
 
Kepala pelabuhan Beirut dan kepala bea cukai mengatakan bahwa beberapa surat telah dikirim ke pengadilan meminta materi tersebut dipindahkan, tetapi tidak ada tindakan yang diambil.
 
Menurut Prokoshev, kapal itu bocor tetapi layak berlayar ketika berlayar ke Beirut pada September 2013. Namun, ia mengatakan pemerintah Lebanon tidak terlalu memperhatikan amonium nitrat, yang telah ditumpuk di lambung dalam karung besar.
 
"Saya merasa kasihan pada orang-orang (terbunuh atau terluka dalam ledakan itu). Tapi pemerintah setempat, Lebanon, harus dihukum. Mereka sama sekali tidak peduli dengan muatan," tegasnya.

 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif