Mantan Presiden Peru Pedro Castillo. Foto: AFP
Mantan Presiden Peru Pedro Castillo. Foto: AFP

Mantan Presiden Peru Sebut Penahanannya sebagai 'Balas Dendam Politik'

Medcom • 29 Desember 2022 21:06
Lima: Mantan Presiden Peru Pedro Castillo, yang ditahan selama 18 bulan mengatakan bahwa dia adalah korban balas dendam politik oleh lawan-lawannya. Castillo, berbicara pada sidang untuk mengajukan banding atas penahanan tersebut.
 
Castillo mengatakan, dia tidak melakukan kejahatan pemberontakan dan konspirasi yang sedang dirinya selidiki.
 
"Penahanan pra-sidang yang tidak adil ini hanya mempolarisasi negara kita," kata Castillo, dalam kutipan Channel News Asia, Kamis, 29 Desember 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Seluruh proses ini tidak lebih dari balas dendam politik,” ucapnya.
 
Mantan presiden itu ditahan di sebuah penjara kecil di pangkalan polisi di sebuah distrik, sebelah timur Ibu Kota Lima. Terpilih pada 2019, dia ditahan pada 7 Desember setelah berusaha menutup badan legislatif melalui dekrit untuk menghindari sidang pemakzulan.
 
Pemungutan suara berlanjut dan Castillo digulingkan dan segera ditangkap. Dina Boluarte, yang menjabat sebagai wakil presiden di bawah Castillo, dilantik sebagai presiden baru pada hari yang sama.
 
Pemecatan dan penahanan Castillo memicu gelombang protes oleh para pendukungnya dan mereka yang tidak senang dengan pemerintah baru di seluruh negeri. Menurut data pemerintah telah menyebabkan sedikitnya 22 orang tewas. 
 
"Saya tidak pernah melakukan kejahatan pemberontakan, saya tidak mengangkat senjata, saya juga tidak meminta siapa pun untuk mengangkat senjata," tegas Castillo. 
 
"Orang yang mengangkat senjata untuk mengakhiri hidup lebih dari 30 orang Peru adalah pemerintah saat ini, menyebabkan lebih dari 20 orang hilang dan lebih dari 200 orang terluka,” sebutnya.
 
Pemerintah Boluarte mengumumkan keadaan darurat hampir dua minggu lalu, memberikan kekuatan khusus kepada pasukan keamanan dan membatasi kebebasan seperti hak untuk berkumpul. Kelompok hak asasi manusia menuduh pihak berwenang menggunakan senjata api pada pengunjuk rasa dan menjatuhkan bom asap dari helikopter. 
 
Tentara mengatakan pengunjuk rasa telah menggunakan senjata dan bahan peledak rakitan. Investigasi menemukan beberapa kasus orang yang ditembak mati di jalan-jalan perumahan Ayacucho setelah militer bergerak ke wilayah tersebut untuk merebut kembali kendali. Hakim yang memimpin sidang mengatakan pengadilan sekarang akan membahas banding Castillo.
 

(Mustafidhotul Ummah)
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif