Joe Biden dalam pertemuan AS-ASEAN secara virtual pada 2021 lalu. Foto: AFP
Joe Biden dalam pertemuan AS-ASEAN secara virtual pada 2021 lalu. Foto: AFP

AS Minta Pemimpin ASEAN Mainkan Peran Besar Kembalikan Demokrasi Myanmar

Internasional Amerika Serikat Myanmar joe biden ASEAN-AS Kudeta Myanmar
Medcom • 12 Mei 2022 13:42
Washington: Menjelang pertemuan Presiden Joe Biden dengan para pemimpin negara Asia Tenggara, ada permintaan dari pejabat Amerika Serikat (AS). Menurutnya Washington ingin para pemimpin Asia Tenggara lebih terlibat dalam upaya mengembalikan Myanmar menjadi negara demokrasi setelah kudeta tahun lalu.
 
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah melarang pemerintah militer Myanmar menghadiri konferensinya, selama tidak terlihat kemajuan dalam lima poin konsensus. Disepakati tahun lalu, konsensus tersebut bertujuan mengakhiri letusan kekerasan sejak junta merebut kekuasaan dan menangkap pejabat yang terpilih secara demokratis, termasuk peraih Nobel Aung San Suu Kyi.
 
Berbicara di Institut Perdamaian AS, koordinator AS untuk Indo-Pasifik, Kurt Campbell, mengatakan pemerintahan Biden akan mendorong “diplomasi yang lebih besar” terkait Myanmar dalam pertemuan dengan para pemimpin ASEAN di Washington pada Kamis, 12 Mei 2022 dan Jumat 13 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kami berharap dan berekspektasi ASEAN akan mengambil inisiatif nyata dalam hal bagaimana mendekati pemerintah saat ini dan oposisi tentang jalan ke depannya,” ujar Campbell.
 
Campbell turut menyebut bahwa organisasi beranggotakan 10 negara itu sudah memulai inisiatif penting mengenai krisis ini, seperti menunjuk perwakilan untuk menyampaikan pesan kepada para jenderal junta Myanmar. Namun, “sebagian besar (langkah) belum berjalan sesuai rencana”.
 
"Amerika Serikat akan melanjutkan peran aktifnya dalam bekerja sama dengan mitra lain, tetapi kami ingin ASEAN memainkan peran yang lebih terlibat untuk diplomasi kritis tentang langkah selanjutnya di Burma," lanjutnya, menggunakan istilah lain untuk Myanmar.
 
Kudeta Februari 2021 di Myanmar memicu unjuk rasa seantero negara, yang secara brutal ditekan oleh militer. Akibatnya, beberapa masyarakat menggunakan senjata untuk melawan junta.
 
Pertumpahan darah yang terjadi mengundang tindakan ASEAN yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Biasanya, blok Asia Tenggara itu menerapkan kebijakan non intervensi bagi urusan dalam negeri anggotanya. Kini, kepala junta Min Aung Hlaing dan pejabat militer lainnya resmi dilarang menghadiri pertemuan ASEAN.
 
Washington mengungkapkan pihaknya akan menyusul langkah ASEAN terkait partisipasi Myanmar dalam konferensi-konferensi penting, dan hanya mengundang perwakilan non politik dari negara tersebut. (Kaylina Ivani)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif