Seorang muslim Uighur berada di depan sebuah masjid di Xinjiang, Tiongkok. (Foto: AFP)
Seorang muslim Uighur berada di depan sebuah masjid di Xinjiang, Tiongkok. (Foto: AFP)

Deportasi Warga Uighur dari Turki Diprotes

Internasional uighur
M Sholahadhin Azhar • 29 Juli 2020 06:55
Istanbul: Aktivis hak-hak muslim Uighur mengkritik Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Sebab, orang nomor satu di Turki itu terkesan diam atas penindasan warga Uighur. Teranyar, warga Uighur di Turki dideportasi ke negara ketiga yang memungkinkan ekstradisi ke Tiongkok.
 
"Presiden Turki memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengkritik India terutama terkait komunitas Muslim. Namun, tidak mengatakan apa-apa terhadap Tiongkok atau tentang penindasan Muslim Uighur," kata aktivis hak-hak Uighur Arslan Hidayat, seperti dilansir WION News, belum lama ini.
 
Tiongkok berupaya mengekstradisi warga Uighur dari negara lain. Media Inggris Telegraph mengungkap pengiriman warga Uighur ke Tajikistan yang memiliki hubungan ekstradisi dengan Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Hidayat, Turki menampung populasi warga Uighur terbesar. Mencapai 50.000 jiwa. Hidayat tahu persis bagaimana proses ekstradisi tersebut.
 
"Tiongkok memburu warga Uighur karena mereka dapat membongkar borok penindasan yang dilakukan para 'diktator' komunis di negara itu," kata Hidayat.
 
Turki dan Tiongkok dikabarkan menandatangani draft perjanjian ekstradisi pada 2017. Namun parlemen Turki belum meratifikasinya.
 
Kedua negara juga menandatangani perjanjian di bidang ekonomi pada 2010. Terdapat delapan pakta perjanjian strategis terkait perdagangan.
 
Bank Sentral Tiongkok juga memberikan suntikan US$1 miliar ke Turki. Dana tersebut untuk menalangi bank-bank lokal yang kesulitan.
 
Beijing, kata Hidayat, telah menyetujui tambahan US$3,6 miliar untuk membantu pengembangan sektor energi Turki. Atas dasar itu, Erdogan dinilai tak akan membela etnis Uighur di Turki.
 
Media Jerman DW, pada Selasa, 28 Juli 2020, menyebutkan ada perubahan sejak Turki dilanda krisis. Financial Times bahkan melaporkan pernyataan Erdogan tentang warga Uighur di Xinjiang pada kunjungannya ke Beijing Juli 2019.
 
"Warga Uighur di Xinjiang dalam kondisi baik-baik saja," demikian Erdogan.
 
Selain Turki, negara lain juga mendukung pemulangan Etnis Uighur. Misalnya di Arab Saudi. Pangeran Mohammad bin Salman memberi isyarat pada Tiongkok untuk menggandakan jejak diplomasinya di Timur Tengah melalui Arab Saudi. Contohnya melalui kemitraan dagang lewat One Belt One Road Initiative.
 

(WIL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif