Dubes Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno (tengah) mempromosikan My Bali Coffee. (KBRI Berlin)
Dubes Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno (tengah) mempromosikan My Bali Coffee. (KBRI Berlin)

Promosi Agresif Kopi Indonesia Di Jerman

Internasional kopi indonesia-jerman Bisnis Kopi
Willy Haryono • 09 November 2020 08:31
Berlin: Ada kesamaan antara bangsa Indonesia dan Jerman. Keduanya penggemar kopi. Bedanya, bangsa Jerman meminum kopi 5.2 kg per orang per tahun, sementara rata-rata orang Indonesia hanya meminum kopi 1.13 kg per orang per tahun.
 
Tidak heran apabila Jerman adalah negara pengimpor biji kopi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat.
 
Apakah bangsa Jerman menyukai kopi Indonesia? Dari jumlah impor kopi di Jerman, peringkat kesatu adalah Brasil dan diikuti oleh Vietnam. Indonesia hanya berada di peringkat ke-9.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa jenis kopi indikasi geografis arabika asal Indonesia yang masuk ke Jerman antara lain Gayo, Lintong, Mandailing, Preanger, Bajawa dan Bali yang termasuk dalam specialty coffee. Di lain pihak, kopi Brazil dan utamanya Vietnam yang masuk ke pasar Jerman adalah robusta yang harganya lebih murah dari Arabika.
 
Namun, masih kurang kompetitifnya akses pasar kopi Indonesia di Jerman bukan hanya karena jenis specialty coffee yang harganya lebih mahal. Akan tetapi juga karena pola promosi kopi Indonesia yang kurang agresif. Untuk itu, KBRI Berlin kini mengembangkan strategi promosi kopi dengan beberapa cara.
 
Baca:  Kedai Kopi Indonesia Pertama di Jerman
 
Pertama, KBRI Berlin mengikuti kursus tentang kopi dan pelatihan menjadi barista di rumah coffee roastery paling besar di Berlin. Saat ini, Dubes RI Berlin dan staf telah memiliki sertifikat menjadi barista dari SCAE atau Specialty Coffee Association Europe. Menjual kopi dengan pemahaman yang baik tentang kopi akan memberikan nilai tersendiri.
 
Kedua, melakukan pertemuan virtual antara asosiasi kopi dan importir Jerman dengan asosiasi kopi dan eksportir Indonesia. Dalam acara ini, pembeli dan penjual dapat bertemu langsung membahas rencana ekspor impor.
 
Ketiga, menyelenggarakan promosi bersama dengan dua pengusaha distributor kopi Indonesia, yaitu My Bali Coffee dan PT Nabu Kopi Ranah Indonesia. Promosi dilakukan di dua pasar swalayan terbesar di Jerman, yaitu EDEKA dan REWE.
 
Polanya, EDEKA dan REWE menjual berbagai jenis kopi Indonesia di swalayan-swalayan yang termasuk dalam jaringan mereka. Tak sekedar menjual kopi, tapi juga dilakukan pengenalan rasa kopi melalui coffee tasting di lobby Gedung serta di tempat parkir. Menariknya, pengenalan kopi ini dikemas dengan mobil kombi klasik VW tahun 1960an yang disulap menjadi coffee combie.
 
Saat ini sudah ada 330 swalayan EDEKA dan REWE yang menjual kopi Indonesia yang berdampingan langsung dengan kopi-kopi kompetitor Indonesia. Hasilnya sangat terlihat. Kini EDEKA dan REWE telah memesan ribuan ton kopi Indonesia.
 
Keempat, promosi kopi melalui radio jazz Jerman.  Para radio DJ akan disuguhi kopi Indonesia dan dilanjutkan dengan wawancara tentang kopi Indonesia. Kelima, promosi kopi bersama dengan coffee roastery Jerman yang memiliki pangsa pasar tersendiri di Jerman.
 
Keenam, promosi kopi di pameran industri Hannover Messe 2021. Ditargetkan pameran industri dan otomasi kelas internasional ini akan dihadiri sekitar 200.000 orang dalam waktu satu minggu. Promosi kopi juga dilakukan di industri kapal pesiar Jerman. Promosi ini memerlukan pendekatan dan strategi tersendiri yang saat ini sedang dimatangkan dengan berbagai pihak.
 
"Enam strategi tersebut mungkin yang pertama kalinya dilakukan oleh perwakilan RI di luar negeri. Penting bagi kita untuk mengkaitkan secara langsung antara kebiasaan cita rasa masyarakat Jerman dengan ketersediaan kopi Indonesia di pasar swalayan Jerman," kata Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno, saat menghadiri promosi kopi di Swalayan REWE pada Sabtu, 7 November 2020.
 
"Edukasi kepada publik Jerman seperti melalui pemasaran langsung kopi Indonesia di swalayan dengan cara yang unik ini akan memberi nilai lebih untuk dapat mengubah cita rasa kopi di Jerman," sambungnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id.
 
Sepasang suami-istri yang sudah merasakan kopi Bali dan Gayo mengatakan bahwa mereka akan mengubah kebiasaan minum kopi. Mereka yang selama ini hanya minum kopi Brasil, mulai saat ini akan juga mulai minum kopi Indonesia. Apabila dilakukan terus menerus, maka cita rasa mereka akan berubah dan bahkan mungkin hanya akan minum kopi Indonesia.
 
"Branding yang pas seperti My Bali Coffee juga menjadi faktor penting dalam pemasaran kopi Indonesia. Upaya pemasaran kopi secara agresif ini akan kita lakukan secara berkesinambungan. Kalau mereka sudah cinta dengan kopi Indonesia, ya harapannya nanti mereka akan berkunjung ke Indonesia," kata Dubes Havas yang juga telah memiliki sertifikat barista ini.
 
Masa pandemi covid-19 tidak mengganggu pemasaran kopi di Jerman. Data survei Deutscher Kaffeeverband menyimpulkan bahwa 72 persen orang Jerman mengonsumsi kopi di rumah, 21,8 persen menikmati kopi ketika bekerja atau di kafe, dan sisanya 5,7 persen menikmati kopi bersama kerabat dan teman. Inilah mengapa perdagangan kopi di Jerman tidak terlalu terpengaruh oleh aturan pembatasan sosial selama pandemi.
 
Dan bahkan menurut pemilik brand MyBali Coffee, Sascha Bayu Handojo, penjualan kopi Indonesia secara daring justru meningkat di masa pandemi. Sascha yang berdarah Indo-Jerman ini menargetkan 1.000 outlet kopi baru di tahun 2021 agar kopi Indonesia semakin dikenal konsumen Jerman.

 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif