WHO belum punya data tingkat keparahan varian Omicron. Foto: AFP
WHO belum punya data tingkat keparahan varian Omicron. Foto: AFP

WHO Belum Punya Data Tingkat Keparahan dari Varian Omicron

Internasional WHO covid-19 Varian Delta Varian Omicron
Medcom • 23 Desember 2021 11:19
Jenewa: Seorang pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pihaknya belum memiliki cukup data terkait varian baru Omicron apakah lebih parah daripada varian Delta. Ketidakpastian ini hampir sebulan setelah Afrika Selatan pertama kali membunyikan alarm atas kemunculan Omicron.
 
“Kami memiliki beberapa data yang menunjukkan bahwa tingkat rawat inap lebih rendah,” kata Pemimpin Teknis WHO untuk covid-19, Maria van Kerkhove dalam sebuah pengarahan dengan media.
 
Namun Kerkhove memperingatkan agar tidak menarik kesimpulan dari data awal karena “kita belum melihat varian ini beredar cukup lama pada populasi di seluruh dunia, tentu saja pada populasi yang rentan”.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilansir dari Channel News Asia, Kamis, 23 Desember 2021, Kerkhove mengatakan, data varian baru yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan dan Hong Kong pada November lalu, masih ‘berantakan’ saat berbagai negara melaporkan kedatangan dan penyebarannya.
 
“Kami telah meminta orang untuk berhati-hati, kami telah meminta negara-negara untuk berhati-hati, dan untuk benar-benar berpikir, terutama karena liburan ini akan datang,” ujar Kerkhove.
 
Sebuah penelitian di Afrika Selatan yang diterbitkan pada Rabu menunjukkan, mereka yang terinfeksi Omicron secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk berakhir di rumah sakit daripada mereka yang menderita Delta. 
 
Meskipun penulis mengatakan, beberapa di antaranya mungkin karena tingkat kekebalan yang tinggi dalam populasi.
 
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mendesak berbagai negara untuk belajar dari dua tahun terakhir pandemi.
 
Ia kembali menyerukan untuk kesetaraan vaksin yang lebih besar, dengan harapan tahun depan mengakhiri pandemi yang telah menewaskan lebih dari 5,6 juta orang di seluruh dunia.
 
“Mendekati tahun baru, kita semua harus belajar pelajaran menyakitkan yang telah diajarkan tahun ini kepada kita. 2022 harus menjadi akhir dari pandemi covid-19,” jelas Ghebreyesus. (Nadia Ayu Soraya)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif