Menteri Luar Negeri Liz Truss dalam konferensi pers pertemuan G7 di Liverpool, 12 Desember 2021. (Jon Super / POOL / AFP)
Menteri Luar Negeri Liz Truss dalam konferensi pers pertemuan G7 di Liverpool, 12 Desember 2021. (Jon Super / POOL / AFP)

Inggris Sebut Indonesia Sebagai Salah Satu Negara 'Pembangkit Teknologi'

Willy Haryono • 13 Desember 2021 21:25
London: Dalam pidato penting kebijakan luar negeri oleh Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss, Indonesia adalah salah satu dari hanya tiga negara yang disebut sebagai "pembangkit teknologi" dan mitra yang diajak bekerja sama untuk menetapkan standar internasional umum dalam teknologi.
 
Indonesia juga disorot dalam konteks ASEAN, karena para menteri luar negeri ASEAN telah diundang untuk bergabung dengan G7 sebagai tamu pada KTT Menteri Luar Negeri dan Pembangunan akhir pekan lalu, saat Inggris membangun hubungan persahabatan yang lebih dalam dengan Indonesia dan Asia Tenggara.
 
Inggris telah menyelenggarakan serangkaian pertemuan Kepresidenan G7 tahun ini – menyatukan negara-negara bebas terkemuka di dunia yang bersama-sama menyumbang setengah dari PDB global.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menlu Liz Truss memaparkan visinya untuk kebijakan luar negeri, di lembaga pemikir kebijakan luar negeri Chatham House di London. Pidato ini adalah seruan bagi semua negara demokratis untuk bekerja bersama dengan lebih dekat, untuk memastikan negara-negara yang bebas dan demokratis berkembang dengan baik di abad ke-21.
 
Ia mengatakan bahwa Inggris akan menggunakan semua bobotnya sebagai ekonomi terbesar kelima di dunia untuk memajukan 'jaringan kebebasan' global dalam kerangka kebebasan demokrasi dan masyarakat, melalui kepemimpinan Inggris dalam teknologi, peningkatan belanja pertahanan, dan kesepakatan perdagangan baru yang lebih mendalam.
 
British International Investment juga akan menyediakan sumber keuangan alternatif bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, untuk mengimbangi pinjaman 'ketergantungan strategis' yang telah diambil oleh beberapa negara.
 
Liz Truss memulai dengan mengatakan bahwa dunia yang bebas dan demokratis terlihat terlalu berpuas diri setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991, dengan berpikir bahwa ini adalah "akhir dari kompetisi ide tentang bagaimana kita menata masyarakat."
 
Sebaliknya, Liz Truss memperingatkan bahwa kepuasan masyarakat yang bebas dan demokratis telah dieksploitasi, meninggalkan ruang hampa di mana beberapa hal telah berkembang – menawarkan pinjaman yang tampaknya murah dengan biaya tersembunyi yang tinggi.
 
"...mereka yang tidak pernah berhenti berjuang dalam pertempuran gagasan global. Mereka tanpa henti membangun pengaruh mereka – menawarkan uang cepat kepada siapa saja yang mau menerimanya, dengan komitmen untuk kedaulatan dan keamanan nasional," sebut Liz Truss, dalam keterangan tertulis Kedutaan Besar Inggris yang diterima Medcom.id, Senin, 13 Desember 2021.
 
Tetapi negara-negara demokratis dan bebas pasti akan berhasil karena mereka lebih cocok untuk umat manusia, tambah Liz Truss.
 
"Kami percaya pada kebebasan individu dan kemanusiaan dan martabat, dan kekuatan masyarakat/rakyat – adalah kekuatan transformatif terbesar di bumi," ucapnya.
 
"Inilah yang selalu membuat musuh kita salah. Mereka menempatkan kelompok di atas individu. Mereka ingin membuat orang bekerja untuk sistem. Di lain pihak, kami ingin membuat agar sistem yang bekerja untuk masyarakat," lanjut Liz Truss.
 
"Kebebasan mengarah pada terobosan, inovasi dan pengembangan karena “Kita tahu bahwa ketika orang memiliki hak pilihan atas hidup mereka sendiri, ketika mereka memiliki kebebasan dan kesempatan, mereka dapat mencapai hal-hal yang luar biasa," pungkasnya.
 
Baca:  Menlu Retno Jelaskan Prioritas Presidensi G20 Indonesia di Pertemuan G7
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif