Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: Volodymyr Zelensky
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: Volodymyr Zelensky

Zelensky: Tidak Ada Perdamaian Sampai Krimea, Donbas Kembali

Medcom • 18 November 2022 19:06
Kiev: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memberikan syarat agar terjadinya perdamaian dengan Rusia. Zelensky menegaskan, Ukraina harus mendapatkan kembali Krimea, yang telah diperoleh oleh Rusia pada 2014, serta wilayah Donbas timur yang telah lama diduduki negara itu.
 
“Gencatan senjata sederhana tidak akan berhasil,” kata Zelensky dalam wawancara video di Bloomberg New Economy Forum di Singapura pada Kamis 17 November 2022.
 
“Kecuali kita membebaskan seluruh wilayah kita, kita tidak akan membawa perdamaian,” lanjutnya, seperti dikutip dari The Straits Times, Jumat 18 November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Merebut kembali semua wilayah Ukraina yang diakui secara internasional akan memerlukan ambisi yang melampaui perolehan militer Rusia sejak Moskow meluncurkan invasi pada Februari. Setelah Rusia mengambil alih Krimea delapan tahun lalu, Kremlin mendukung pasukan separatis di Donbas dalam konflik yang membara meskipun prakarsa perdamaian yang dipimpin Prancis-Jerman, secara efektif menduduki sebagian besar wilayah Luhansk dan Donetsk.
 
Serangan balasan Ukraina sejak musim panas telah memukul mundur pasukan Rusia di wilayah Kharkiv timur laut dan, terakhir, di wilayah Kherson selatan setelah Moskow memerintahkan mundur melintasi Sungai Dnipro.
 
Meskipun militer Ukraina merebut kembali lebih dari setengah wilayah yang telah hilang dari Rusia sejak Februari. Rusia masih menempati sebagian besar wilayah selatan dan timur negara itu, selain semenanjung Laut Hitam.
 
“Bukan hanya sebuah negara di dalam negara, itu adalah bagian dari negara kita dan bagian dari kedaulatan kita,” kata Zelensky.
 
Pemimpin Ukraina memperkuat pesannya bahwa dia tidak akan bernegosiasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin setelah serangkaian referendum mencaplok wilayah tambahan Ukraina dua bulan lalu dan ditolak oleh sebagian besar dunia. Saat menghadapi kemunduran di medan perang, Rusia mengalihkan taktik ke perang udara, meluncurkan rentetan serangan rudal yang menargetkan energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya.
 
Moskow menembakkan hampir 100 rudal pada Selasa. Ini menjadi serangan terbesar sejak invasi dimulai, meninggalkan jutaan rumah tanpa listrik.
 
Kampanye rudal hampir memicu eskalasi besar dengan NATO ketika sebuah roket Ukraina mendarat di dalam wilayah Polandia, menewaskan dua orang di desa Przewodow.
 
Aliansi militer dan para pemimpin Polandia menentukan bahwa serangan itu kemungkinan besar disebabkan oleh pertahanan udara Ukraina dan pada akhirnya meredakan insiden tersebut, meskipun pemerintah Zelensky menentang kesimpulan tersebut. (Mustafidhotul Ummah)
 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif