Suara suram datang saat episentrum wabah global bergerak ke Amerika Serikat. Sementara para ilmuwan memperingatkan bahwa Inggris bisa berakhir menjadi negara yang paling parah terkena dampak covid-19 di Eropa.
Menurut Universitas Johns Hopkins, total 137.078 orang kini telah meninggal karena virus yang menyapu seluruh dunia. Sementara 512.252 telah pulih.
Jumlah sebenarnya dari infeksi kemungkinan jauh lebih tinggi karena terbatasnya kemampuan untuk uji covid-19 di sejumlah negara.
Infeksi global mencapai satu juta pada 2 April, yang berarti bahwa kasus-kasus virus yang sangat menular hanya perlu 13 hari untuk berlipat ganda setelah menyebar ke hampir setiap negara di dunia.
Pada Senin, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa angka-angka ini kemungkinan terus meningkat lebih cepat daripada penurunannya.
"Dengan kata lain, jalan turun jauh lebih lambat daripada naik. Itu berarti langkah-langkah kontrol harus diangkat perlahan-lahan dan dengan penuh kendali. Itu tidak bisa terjadi sekaligus,” cetusnya, disiarkan dari Daily Mirror, Kamis 16 April 2020.
AS sekarang telah mengambil alih posisi Italia sebagai negara dengan jumlah kematian terbanyak akibat virus korona.
Negeri Paman Sam mencatat 639.628 kasus yang dikonfirmasi, sementara 30.980 orang telah meninggal. Pada Jumat Agung, AS menjadi negara pertama di dunia yang melaporkan lebih dari 2.000 kematian akibat virus korona dalam satu hari.
Sementara, seorang penasihat pemerintah telah memperingatkan bahwa Inggris bisa berakhir menjadi "negara yang paling parah terkena dampak di Eropa".
Pakar penyakit menular, Sir Jeremy Farrar, yang merupakan anggota Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat (SAGE), mengatakan kepada penyiar BBC Andrew Marr bahwa angka kematian Inggris dapat melebihi Italia dan Spanyol, yang saat ini memiliki angka kematian tertinggi.
Namun ia juga menyatakan harapan Inggris --yang telah mencatat 99.489 infeksi dan 12.894 kematian -- mendekati titik di mana jumlah kasus baru menurun.
Sejumlah negara Eropa mulai mencabut beberapa langkah pembatasan sosial yang paling ketat yang telah diberlakukan untuk memperlambat penyebaran virus yang mematikan.
Spanyol memiliki jumlah kasus tertinggi kedua di dunia setelah AS, dengan 180.659 dan 18.812 kematian, diikuti oleh Italia dengan 165.155 dan 21.645 kematian. Prancis mencatat 134.582 kasus sementara 17.188 orang meninggal.
Wuhan di Tiongkok, tempat virus itu pertama kali muncul pada Desember, sekarang telah mencabut lockdown ketat yang berlangsung 11 pekan. Warga sekarang diizinkan meninggalkan kota yang menjadi tempat wabah global dimulai, karena jumlah kasus baru terus berkurang.
Pemerintah Tiongkok mengklaim kota itu bulan lalu mencatat pekan pertama tanpa ada kasus. Sebanyak 83.402 infeksi telah dicatat di Tiongkok, dan 3.346 kematian.
Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (embed: https://www.medcom.id/corona).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News