Rasmus Paludan, politikus Denmark yang bakar Al-Quran./AFP
Rasmus Paludan, politikus Denmark yang bakar Al-Quran./AFP

Politikus Sayap Kanan Bakar Al-Quran, PM Swedia: Kebebasan Berekspresi

Internasional alquran islam swedia
Marcheilla Ariesta • 16 April 2022 18:52
Stockholm: Pemimpin partai sayap kanan Stram Kurs, Rasmus Paludan, memicu kontroversi karena telah membakar Al-Quran. Aksi itu dilakukan Paludan di wilayah mayoritas Muslim di Linkoping, Swedia.
 
Tindakan tersebut dilakukan Paludan di tengah perlindungan kepolisian setempat. Massa sempat mencoba menghentikan aksinya, namun ia tak peduli dan tetap membakar Al-Quran.
 
Sekitar 200 demonstran kemudian berkumpul di alun-alun kota untuk memprotes aksi Paludan. Mereka mendesak agar polisi segera mengambil tindakan. Desakan warga tidak juga dihiraukan polisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita hidup dalam masyarakat demokratis, dan salah satu tugas terpenting polisi adalah memastikan bahwa orang dapat menggunakan hak mereka yang dilindungi secara konstitusional untuk berdemonstrasi dan mengekspresikan pendapat mereka," kata Kepala Polisi Nasional Swedia Anders Thornberg, dilansir dari Al Jazeera, Sabtu, 16 April 2022.
 
"Polisi tidak bisa memilih siapa yang berhak, tetapi harus selalu turun tangan jika terjadi pelanggaran," lanjutnya.
 
Baca juga: Polisi Selidiki Kasus Perempuan Pembakar Al-Qur'an
 
Terkait hal ini, Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson membela aksi pembakaran Al-Quran tersebut. Andersson mengatakan bahwa aksi Paludan merupakan sebuah bentuk kebebasan berekspresi, dan menyerukan bahwa kekerasan tidak sepatutnya dilakukan.
 
"Di Swedia, orang-orang diizinkan untuk mengekspresikan pendapat mereka, tidak peduli jika aksi tersebut sopan atau tidak sopan. Itu adalah bagian dari demokrasi kita," ujar Andersson.
 
"Tidak peduli apa yang Anda pikirkan, Anda tidak boleh menggunakan kekerasan. Kami tidak akan menerima itu," imbuh dia.
 
Ia juga mengatakan bahwa seharusnya masyarakat tidak terhasut oleh perbuatan Paludan.
 
"Ini adalah jenis reaksi kekerasan yang (Paludan) inginkan. Tujuannya adalah untuk menghasut orang untuk saling melawan." kata dia. 
 
Paludan pernah membakar Al-Quran di tahun 2019. Satu tahun setelahnya, ia dilarang masuk ke Swedia selama dua tahun.
 
Pada Oktober di tahun yang sama, Paludan juga dilarang memasuki Jerman selama beberapa waktu. Larangan disampaikan usai tokoh kontroversial itu mengumumkan rencana demonstrasi provokatif di Berlin.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif