Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara via pesan video dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, AS, 27 September 2022. (Michael M. Santiago / Getty / AFP
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara via pesan video dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, AS, 27 September 2022. (Michael M. Santiago / Getty / AFP

Zelensky Enggak Mau Dialog dengan Rusia Jika Presidennya Masih Putin

Willy Haryono • 28 September 2022 14:42
Kyiv: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa 'referendum palsu' di empat wilayahnya, yang disebut-sebut berakhir dengan kemenangan kelompok separatis pro-Rusia, telah menutup pintu dialog dengan Moskow. Ia mengaku tidak mau lagi berdialog dengan Rusia, jika presiden di Negeri Beruang Merah masih Vladimir Putin.
 
Berbicara di Dewan Keamanan PBB via sambungan video, Zelensky menyerukan tambahan dukungan militer dan finansial agar pasukannya dapat mengalahkan Rusia, yang kini terindikasi hendak mencaplok empat wilayah Ukraina usai berakhirnya referendum.
 
Referendum tersebut, dikecam keras Ukraina dan negara-negara Barat, berlangsung di Luhansk serta Kherson serta sebagian wilayah Donetsk dan Zaporizhzhia sejak Jumat pekan lalu dan berakhir Selasa kemarin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Barat, referendum tersebut hanya alasan dan akal-akalan Rusia dalam mengumumkan aneksasi empat wilayah Ukraina, persis dengan yang pernah dilakukan Moskow terhadap Krimea di tahun 2014.
 
Sejumlah pejabat daerah Ukraina pro-Rusia mengatakan bahwa mayoritas warga di empat wilayah yang menggelar referendum telah memutuskan unuk bergabung dengan Rusia. Ada kekhawatiran Rusia akan mengeluarkan pengumuman resmi mengenai aneksasi empat wilayah Ukraina dalam beberapa hari ke depan.
 
Baca:  Wah, 4 Wilayah Ukraina Memilih Bergabung ke Rusia
 
Masih dalam keterangan di DK PBB, Zelensky menyerukan adanya respons keras terhadap referendum dan kemungkinan pengumuman resmi aneksasi dari Pemerintah Rusia.
 
"Segala bentuk aneksasi di era modern adalah sebuah kejahatan. Itu adalah sebuah kejahatan terhadap semua negara yang menganggap perbatasan mereka adalah hal vital yang tak dapat dipisahkan," tegasnya.
 
Zelensky menuduh Rusia telah menghancurkan "badan utama dari hukum internasional" dengan melancarkan invasi pada Februari lalu, dan kini berusaha menganeksasi wilayah negara tetangga.
 
"Pengakuan Rusia atas referendum ini, seperti dulu saat kasus Krimea, dapat diartikan bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan presiden Rusia yang menjabat saat ini," ungkapnya, merujuk pada Putin.
 
Banyak anggota DK PBB mengecam keras referendum di empat wilayah Ukraina. Mereka menekankan bahwa segala bentuk aneksasi tidak akan pernah diakui komunitas global.
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif