Serangan Pemberontak Picu Lonjakan Kasus Ebola Kongo
Petugas kesehatan Kongo melakukan evakuasi rumah warga yang diketahui terjangkit virus Ebola. (Foto: AFP).
Kigali: Gelombang serangan pemberontak dan milisi dilancarkan terhadap para petugas kesehatan yang memerangi wabah Ebola terbaru di Republik Demokratik Kongo. Akibatnya lonjakan dalam kasus yang dilaporkan sebagai respons atas penyakit mematikan tersebut.
 
Terakhir 157 kematian, di mana 122 telah dikonfirmasi sebagai kasus Ebola, dalam wabah, yang dinyatakan hampir tiga bulan lalu. Total kasus yang mungkin dan terkonfirmasi sekarang mencapai 244, dengan 63 pasien pulih dari infeksi.
 
Wabah ini berpusat di Provinsi Kivu dan Ituri Utara, keduanya didera pemberontakan bersenjata dan pembunuhan etnis sejak dua kali perang saudara di akhir 1990-an.
 
Di kota Butembo, milisi membunuh dua anggota unit medis tentara Kongo pada Sabtu. Pada hari yang sama, 11 warga sipil dan satu tentara tewas di kota Beni, tempat sejumlah orang mengidap virus itu.
 
Pemberontak juga menyerang posisi tentara Kongo dan menculik belasan anak-anak berusia antara lima dan 10 tahun. Lima lainnya tewas dalam serangan dekat Goma, Ibu Kota Kivu Utara, Selasa.
 
Kekerasan terbaru muncul di tengah peringatan dari pejabat kesehatan internasional bahwa wabah itu bisa memburuk secara signifikan kecuali respons terhadap virus mematikan semakin meningkat.
 
Tidak jelas siapa yang melakukan serangan baru-baru ini. Pasukan Demokratis Sekutu (ADF), kelompok Islamis yang berbasis di Uganda tetapi aktif di DRC timur, telah bentrok dengan pasukan Kongo di kota Beni dalam beberapa pekan terakhir.
 
Milisi Mai-Mai, yang terdiri dari sejumlah kelompok bersenjata yang awalnya dibentuk guna melawan invasi Rwanda pada 1990-an, juga berkeliaran di wilayah tersebut.
 
"Beberapa kelompok pemberontak menggunakan serangan mendadak sementara yang lain menyerang dari kota-kota yang berbeda pada saat yang sama untuk mengendurkan respons tentara," kata Kapten Mak Hazukay, jurubicara militer Kongo di North Kivu, seperti dilansir dari Guardian, Jumat 26 Oktober 2018.

Dia katakan tentara melakukan segala kemungkinan demi mencegah serangan lebih lanjut terhadap warga sipil. Ketidakmampuan militer untuk mencegah serangan telah menyebabkan kemarahan dan kecurigaan.
 
Jumlah kasus Ebola telah meningkat dalam dua pekan terakhir. Setengahnya telah berada di dan sekitar Beni, di mana penanganan terganggu bulan lalu karena periode berkabung resmi menyusul serangan oleh kelompok-kelompok bersenjata.
 
"Saat ini wabah aktif di Beni dan Butembo dan tim reaksi fokus di sana. Kami mulai melihat hasilnya, terutama dalam hal munculnya peringatan dan kasus," seru Dr. Bathe Ndjoloko, koordinator tanggap darurat wabah di Beni, kepada Guardian.
 
Lebih dari 11.000 orang melakukan kontak dengan individu yang terinfeksi sudah dilacak, dengan sekitar 5.000 masih dalam pengawasan. Lebih dari 20.000 orang telah divaksinasi sejauh ini.
 
Beberapa daerah yang telah menampakkan sejumlah besar kasus penyakit sekarang menjadi ancaman kecil setelah upaya intensif oleh pejabat kesehatan dan LSM.
 
Wabah Ebola yang tercatat terbesar membunuh sekitar 11.300 orang di Guinea, Liberia dan Sierra Leone, dari tahun 2014 hingga 2016. Penyakit ini pertama kali terlihat di dekat sungai Ebola utara di DR  Kongo pada 1970-an.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id