Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan negaranya telah menyampaikan proposal kepada Amerika Serikat melalui Qatar pada Jumat, 25 September 2026.
“Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran normal dipulihkan dalam waktu tujuh hari,” kata Araghchi dilansir dari laman BBC pada Sabtu, 26 September 2026
Araghchi juga mengatakan bahwa proposal tersebut tidak menawarkan formula baru karena syarat yang diminta Iran sudah tercantum dalam memorandum of understanding (MOU) yang ditandatangani pada 18 Juni 2026.
“Tindakan yang harus diambil Amerika Serikat bukanlah hal baru. Semuanya sudah tercantum dalam MOU,” lanjutnya.
Dalam proposal itu, Iran mengaitkan pembukaan Selat Hormuz dengan penghentian permusuhan, pelonggaran tekanan ekonomi dan militer AS, serta langkah terkait blokade pelabuhan dan sanksi minyak Iran.
Jika menyetujui rencana tersebut, Iran mengatakan proses menuju pembukaan jalur pelayaran dapat dimulai dan pembicaraan mengenai isu nuklir kembali berjalan.
Pembukaan Hormuz Bisa Dimulai Setelah AS Setuju
Iran menyebut waktu tujuh hari baru dihitung setelah Amerika Serikat menerima proposal tersebut.
Dalam skema yang dijelaskan Araghchi, sejumlah langkah awal dilakukan dalam empat sampai lima hari, kemudian Selat Hormuz dapat dibuka pada hari keenam dan pembicaraan lanjutan dimulai pada hari ketujuh.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga mengatakan proses gencatan senjata dapat dimulai pada hari yang sama ketika AS menerima proposal.
“Proses gencatan senjata akan dimulai sejak hari mereka menerimanya,” kata Pezeshkian. (Wisa Irena Br Sitepu)