Nyamuk malaria yang menyerang banyak warga di dunia. Foto: AFP
Nyamuk malaria yang menyerang banyak warga di dunia. Foto: AFP

Pemberantasan Malaria Terhenti, WHO Desak Investasi

Internasional pbb malaria
Arpan Rahman • 24 Agustus 2019 09:07
Jenewa: Pertarungan global melawan malaria telah mandek dan membutuhkan investasi besar-besaran serta kepemimpinan politik, Badan Kesehatan PBB memperingatkan dalam sebuah laporan yang diterbitkan Jumat.
 
"Dunia berada di persimpangan jalan. Kemajuan historis yang telah dicapai selama dekade terakhir jelas melambat," Pedro Alonso, direktur program malaria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan pada konferensi pers di Jenewa.
 
Alonso menyatakan keprihatinan mendalam ketika menyoroti bahwa "kita masih direnggut lebih dari 400.000 kematian setiap tahun dan 200 juta kasus."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Meskipun ada kemajuan besar dalam mengurangi kasus malaria dan kematian antara tahun 2000 dan 2015, dua tahun terakhir telah terjadi macetnya kemajuan global," laporan WHO memperingatkan, disitat dari AFP, Sabtu 24 Agustus 2019.
 
Dikatakan target 2020 untuk mengurangi insiden dan kematian hingga 90 persen pada tahun 2030 kemungkinan akan terlewatkan.
 
Laporan WHO memperkirakan bahwa bahkan dengan memberikan "skenario dan proyeksi paling optimis, kita masih akan memiliki 11 juta kasus di Afrika pada tahun 2050."
 
Dikatakan, "tindakan terpadu dan terkoordinasi besar-besaran" diperlukan buat memberantas penyakit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi.
 
Afrika Sub-Sahara sejauh ini menanggung beban malaria terbesar. Data WHO menunjukkan wilayah tersebut menyumbang 90 persen kematian terkait pada 2018.
 
Badan PBB itu mengatakan penyakit itu menyerang "yang paling rentan -- yang sangat muda dan yang miskin." Tiga dari lima kematian akibat malaria adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun, WHO menyatakan.
 
Laporan itu mengatakan USD34 miliar harus diinvestasikan antara sekarang dan 2030 demi memerangi malaria, terutama dengan meningkatkan penyediaan layanan kesehatan, vaksinasi, dan pengawasan ancaman.
 
Alonso menggarisbawahi bahwa vaksin saat ini hanya efektif 40 persen. WHO menyatakan bahwa "pendanaan global untuk malaria tetap relatif stagnan sejak 2010."
 
Laporan itu mengatakan intervensi yang ditingkatkan dapat mengurangi kasus sebanyak dua miliar dan kematian hingga empat juta pada tahun 2030 jika bantuan dapat ditargetkan kepada 29 negara yang paling terpukul.
 
Hanya pada saat itulah WHO dapat kembali mengejar tujuan awalnya yaitu dunia bebas malaria, pertama kali diungkapkan setelah pendiriannya pada 1948, kata Alonso.
 
Dia menambahkan tidak ada "hambatan biologis" untuk mencegah hal itu. "Membebaskan dunia dari malaria akan menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam kesehatan masyarakat," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan.
 
"Dengan alat dan pendekatan baru, kita dapat membuat visi ini menjadi kenyataan," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif