Massa yang memenuhi Khartoum, Sudan berhadapan dengan pihak keamanan. (Foto: AFP).
Massa yang memenuhi Khartoum, Sudan berhadapan dengan pihak keamanan. (Foto: AFP).

Bentrok Massa dan Pasukan Sudan Tewaskan Wanita Hamil

Internasional konflik sudan
Arpan Rahman • 30 Mei 2019 15:49
Khartoum: Seorang wanita hamil tewas di Ibu Kota Sudan setelah baku tembak meletus di antara anggota pasukan keamanan negara itu.
 
Komite Dokter Sudan (SDC) mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu bahwa wanita itu, seorang pedagang kaki lima, tewas di luar markas tentara terkena ‘peluru nyasar’ ketika tentara berupaya membubarkan aksi duduk.
 
Insiden itu bertepatan dengan hari kedua dan terakhir dari pemogokan umum dua hari diluncurkan atas perintah Asosiasi Profesional Sudan (SPA), sebuah kelompok payung dari berbagai serikat pekerja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pasukan Reaksi Cepat dan militer tampaknya memiliki semacam argumen, yang menyebabkan baku tembak antara kedua belah pihak dan di mana seorang wanita hamil tertembak," kata Hiba Morgan dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Khartoum.
 
"Ada beberapa cedera juga dilaporkan oleh SPA, badan yang menjadi ujung tombak seruan untuk protes selama beberapa bulan terakhir di Sudan," cetusnya, disingkap dari Al Jazeera, Kamis 30 Mei 2019.
 
Ditahan agar mengaku
 
Dalam sebuah pernyataan, SPA mengutuk apa yang digambarkan sebagai "perilaku yang tidak bertanggung jawab dari pasukan keamanan Sudan, yang seharusnya menjaga keamanan dan keselamatan warga negara".
 
Selanjutnya menuntut mereka yang bertanggung jawab atas kematian wanita itu "dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka".
 
Pemogokan nasional bertujuan menekan anggota Dewan Militer Transisi (TMC) yang berkuasa untuk memberi jalan bagi pemerintah sementara yang dipimpin sipil.
 
Militer Sudan menyingkirkan mantan pemimpin lama Omar al-Bashir pada 11 April menyusul berbulan-bulan protes anti-pemerintah, yang pertama kali meletus pada Desember karena melonjaknya harga, kekurangan uang tunai, dan kesulitan ekonomi lainnya.
 
Lantas mengatur TMC untuk memerintah negara dan berjanji menyerahkan kekuasaan setelah pemilu.
 
Meskipun mencapai kesepakatan tentang beberapa aspek penting dari transisi -- termasuk jangka waktu tiga tahun dan pembentukan 300 anggota parlemen -- komposisi dewan berdaulat tetap menjadi titik utama pertikaian.
 
"Menyadari tanggung jawab historis kami, kami akan berupaya mencapai kesepakatan mendesak yang memenuhi aspirasi rakyat Sudan dan tujuan revolusi Desember yang mulia," kata sebuah pernyataan yang ditandatangani TMC.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif