Pasukan Monusco di RD Kongo. (Foto: AFP/Alain Wandimoyi)
Pasukan Monusco di RD Kongo. (Foto: AFP/Alain Wandimoyi)

Pangkalan Militer PBB di RD Kongo Dibakar Massa

Internasional pbb rd kongo
Willy Haryono • 26 November 2019 07:10
Beni: Sekelompok pengunjuk rasa membakar sebuah pangkalan militer milik Perserikatan Bangsa-Bangsa dan juga gedung balai kota Beni di Republik Demokratik Kongo bagian timur, Senin 25 November.
 
Demonstran kesal karena pasukan PBB dan pemerintah gagal mencegah terjadinya serangan yang dilancarkan sebuah grup pemberontak Allied Democratic Forces (ADF).
 
Minggu malam 24 November, delapan orang tewas akibat serangan ADF di sebuah kota di RD Kongo. PBB memiliki 18 ribu personel militer di RD Kongo, namun hingga kini masih kesulitan dalam menghadapi sepak terjang ADF dan sejumlah grup lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


ADF adalah satu dari banyak kelompok milisi yang beroperasi di RD Kongo timur, sebuah wilayah kaya mineral yang berbatasan dengan Uganda dan Rwanda. ADF, yang dibentuk oleh beberapa tokoh pemberontak, selama ini diyakini sebagai dalang di balik berbagai aksi brutal di RD Kongo timur.
 
Merasa kesal karena keamanan negara tak kunjung membaik, massa menyerbu pangkalan militer PBB untuk memprotes serangan terbaru ADF.
 
"Beberapa kantor di markas besar Monusco dibakar dan dijarah," kata seorang tokoh masyarakat di Beni, Teddy Kataliko, dikutip dari BBC, Selasa 26 November 2019.
 
"Warga meminta pasukan Monusco ditarik dari Beni karena mereka seolah tidak berbuat apa-apa di sini," sambung dia. Monusco adalah akronim dari pasukan PBB di RD Kongo.
 
Sebelumnya, massa telah menyerbu gedung balai kota dan membakarnya.
 
Presiden RD Kongo Felix Tshisekedi merespons kemarahan warga, dan berjanji bahwa PBB dan pasukan pemerintah akan melakukan operasi gabungan untuk melindungi masyarakat sipil di Beni.
 
Beni, kota dengan populasi lebih dari 200 ribu orang, juga merupakan episenter wabah virus Ebola. Lebih dari 2.000 orang di Beni meninggal akibat wabah Ebola -- kedua paling mematikan di seluruh dunia.
 
Otoritas medis di Beni kesulitan menangani wabah Ebola karena situasi keamanan yang cenderung tidak stabil.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif