Ali Shami, pengusaha sabun yang terus berproduksi meski saat perang. (Foto: AFP).
Ali Shami, pengusaha sabun yang terus berproduksi meski saat perang. (Foto: AFP).

Kemunculan Aroma Sabun Bukti Kembalinya Geliat Usaha di Suriah

Internasional krisis suriah suriah konflik suriah
Arpan Rahman • 22 Maret 2019 18:06
Aleppo: Setelah perang bertahun-tahun, aroma minyak laurel sekali lagi berhembus dari pabrik sabun kecil di Aleppo. Itu tanda kebangkitan perdagangan di kota utara Suriah yang babak belur.
 
Bengkel-bengkel sabun di sekitar distrik Al-Nayrab masih berupa reruntuhan, rusak parah dalam pertempuran empat tahun di bekas kubu pemberontak. Tetapi bagi Ali Shami, menanggalkan celemek bukanlah pilihan.
 
"Saya tidak pernah berhenti membuat sabun sepanjang perang -- bahkan jika itu hanya sedikit," kata pria 44 tahun itu, yang melarikan diri dari kota asalnya selama pertempuran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi bengkel ini istimewa. Di sinilah saya memulai lebih dari 30 tahun yang lalu," katanya kepada AFP, seperti disitat Jumat 22 Maret 2019.
 
Shami membuka kembali bengkel sabunnya bulan lalu setelah menutupnya pada 2012, ketika kota kedua Suriah menjadi medan perang besar dalam konflik selama delapan tahun.
 
Bekas pertempuran masih terlihat pada bangunan, dindingnya berlubang akibat penembakan. Hembusan angin bertiup melewati celah itu. Shami melakukan renovasi terbatas -- hanya cukup untuk menghasilkan lebih dari setengah dari produksinya sebelum perang sekitar 800 ton per tahun.
 
Dia memasang pintu logam baru dan memperbarui bilik-bilik utama tempat campuran sabun dipanaskan dan kemudian dituangkan untuk dikeringkan. Dirinya juga menyaksikan lima pekerja mengaduk campuran minyak zaitun dan laurel dalam tong besar.
 
Di samping mereka, lima pekerja lain memotong yang sudah dingin dan mengeraskan pasta hijau ke dalam kubus dan menumpuknya di rak bobrok. Shami katakan ia dapat melanjutkan operasi dengan cepat karena sabun Aleppo adalah buatan tangan.
 
“Produksinya bergantung pada tenaga kerja manual, campuran yang sukses, hasrat warga Aleppo, dan kecintaan mereka pada profesi," katanya.
 
Setelah ditutup pada 2012, Shami mencoba melanjutkan pekerjaannya di kota-kota besar Suriah lainnya. Dia pindah ke ibu kota, Damaskus, dan kota pesisir yang dikuasai rezim, Tartous, tetapi Shami mengatakan sabun di sana tidak terlalu bagus.
 
"Iklim Aleppo sangat cocok untuk produksi sabun dan orang-orang Aleppo tahu rahasia perdagangan dan bagaimana menanggung kesulitan dari banyak tahap produksi," katanya.
 
Shami, yang mewarisi bisnis sabun dari ayah dan kakeknya, membanggakan tentang kualitas unggul sabun Aleppo, yang tertua dari jenisnya di dunia.
 
"Sabun Aleppo membedakan dirinya dari sabun lain di seluruh dunia karena hampir seluruhnya terbuat dari minyak zaitun," katanya.
 
"Sabun Eropa, di sisi lain, termasuk lemak hewani, sementara sabun yang dibuat di Asia dicampur dengan minyak nabati tetapi bukan minyak zaitun," katanya.
 
Wilayah Aleppo terkenal dengan minyak zaitun dan minyak salam manis, atau laurel. Shami mengatakan industri sabun Aleppo terpukul keras oleh bentrokan sengit yang mengguncang kota asalnya, sebelum berakhir pada penghujung 2016 ketika tentara merebut kembali distrik pemberontak didukung militer Rusia.
 
Kemunculan Aroma Sabun Bukti Kembalinya Geliat Usaha di Suriah
Pekerja tengah membuat sabun di Aleppo, Suriah. (Foto: AFP).
 
Sementara kondisinya tidak begitu berbahaya saat ini, produsen sabun masih bergulat dengan kekurangan bahan baku dan tenaga kerja terampil, katanya. Puluhan produsen sabun masih menunggu untuk menyelesaikan renovasi sebelum membuka kembali bengkel mereka.
 
Hisyam Gebeily adalah salah satu di antara mereka. Pusat pembuatan sabunnya di Kota Tua Aleppo, dinamai berdasarkan keluarga, telah bertahan selama beberapa generasi, yang berasal dari abad ke-18.
 
Bengkel batu tiga lantai mencakup ruang sekitar 9.000 meter persegi, dan dianggap sebagai yang terbesar di kota ini. Namun pria berusia 50 tahun itu terpaksa menutupnya pada 2012. Struktur itu masih berdiri, meskipun rusak karena pertempuran: bagian-bagiannya telah hangus, balok-balok kayu yang menopang atap mulai runtuh.
 
"Sebelum konflik, kota Aleppo menampung sekitar 100 pabrik sabun," katanya. Tetapi hanya sekitar 12 yang masih beroperasi hari ini.
 
Pembuat sabun itu mengatakan bahwa banyak produsen sabun Aleppo telah pindah ke Damaskus dan Tartous, sementara yang lain melintasi perbatasan ke Turki. Gebeily, yang mengepalai komite produsen sabun Aleppo, mengatakan provinsi itu dulu memproduksi sekitar 30.000 ton sabun per tahun sebelum konflik.
 
"Bau minyak laurel akan menguar dari bengkel menjadi ciri khas Aleppo. Tidak ada yang akan mengunjungi kota tanpa membeli sabunnya,” sebutnya.
 
Angka ini turun menjadi kurang dari 1.000 ton setelah 2012. Kini, angkanya kembali hingga 10.000 ton per tahun, katanya, ketika pabrik-pabrik sekali lagi menghasilkan "harta nasional" Suriah.
 
"Arab Saudi mengekspor minyak, coklat Swiss, dan mobil Jerman. Aleppo mengekspor sabun laurel," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif