Tank milik milisi Turki yang melakukan serangan ke Suriah. Foto: AFP
Tank milik milisi Turki yang melakukan serangan ke Suriah. Foto: AFP

Turki Derita Kerugian Besar dalam Konflik Idlib

Internasional krisis suriah turki konflik suriah
Arpan Rahman • 28 Februari 2020 16:07
Idlib: Serangan udara oleh pasukan pemerintah Suriah di Idlib menewaskan 29 tentara Turki tewas dan beberapa lainnya cedera.
 
Pasukan Turki pun segera ‘merespons dengan cara yang sama’ segera. Mereka membalas dengan tembakan artileri pada target 'Pemerintah Suriah' yang diketahui, kata kantor berita Turki Anadolou mengutip direktur komunikasi negara itu, Fahrettin Altun.
 
Eskalasi yang berbahaya menandai jumlah terbesar korban Turki dalam satu hari sejak mengirim ribuan tentara. Tentara Turki membantu mereka yang menentang serangan Bashar al-Assad didukung Rusia, yang dimulai pada Desember.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Idlib menjadi kota besar terakhir yang dikuasai oleh pasukan oposisi. Hampir 1 juta penduduk terpaksa mengungsi sejak kampanye pengeboman agresif pemerintah Suriah dimulai.
 
"Mengantisipasi gelombang pengungsi dari Idlib, para pejabat perbatasan Turki telah diperintahkan untuk mundur dan membiarkan mereka masuk ke Eropa," ujar pihak pejabat Turki.
 
Perintah ini belum dikonfirmasi oleh pemerintah di Turki, yang menampung sekitar 3,7 juta pengungsi Suriah dan pada 2016 mencapai kesepakatan jutaan euro dengan Uni Eropa guna membendung masuknya imigran ke dalam blok tersebut.
 
Dilansir dari The Independent, Jumat, 28 Februari 2020, lebih dari 900.000 orang di Idlib meninggalkan rumah mereka sejak Desember, sekitar 500.000 diperkirakan merupakan anak-anak.
 
Sebagian besar menjadi tunawisma dan tidur dalam kondisi menggigil di kamp-kamp dan tempat penampungan sementara di wilayah tersebut. Banyak yang terpaksa membakar pakaian cadangan dan sampah agar tetap hangat.
 
Serangan pasukan pemerintah Suriah bergeser ke garis depan lebih dekat ke daerah-daerah berpenduduk padat ini. Hingga wakil koordinator kemanusiaan regional PBB untuk Suriah untuk memperingatkan pekan lalu bahwa akan ada 'pertumpahan darah' jika pasukan Assad maju lebih jauh ke provinsi tersebut.
 
"Kita akan melihat pembantaian dalam skala yang belum pernah terlihat dalam seluruh perang ini," kata Mark Cutts kepada Sky News, Kamis.
 
Pasukan Assad, didukung serangan udara Rusia tanpa henti, telah berusaha keras dalam beberapa bulan terakhir untuk merebut kembali wilayah besar yang dikuasai pemberontak terakhir di barat laut Suriah. Perang saudara telah sembilan tahun, yang menggusur jutaan orang dan menewaskan ratusan ribu.
 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sudah mengancam akan melakukan serangan balasan besar-besaran terhadap pasukan Assad kecuali mereka mundur dalam dua hari ke depan untuk gencatan senjata yang disepakati pada 2018.
 
Dua pejabat Turki mengatakan Erdogan mengadakan pertemuan darurat di Ankara dengan para stafnya usai serangan udara pada Kamis. Tetapi presiden tidak akan merilis rincian apapun. Turki sebelumnya menderita 21 korban pada Februari.
 
Serangan udara itu terjadi setelah pejuang oposisi Suriah didukung Turki mengambil kembali sebuah kota barat laut yang strategis dari pasukan pemerintah pada Kamis, kata aktivis oposisi. Mereka memotong jalan raya utama hanya beberapa hari sesudah pemerintah membuka kembali kota itu untuk kali pertama sejak 2012.
 
Meskipun kehilangan Kota Saraqeb, pasukan Assad sekarang menguasai hampir seluruh bagian selatan Provinsi Idlib setelah menangkap lebih dari 20 desa pada Kamis, media pemerintah dan aktivis oposisi mengatakan.
 
Sementara pertempuran berkecamuk, pejabat Turki dan Rusia mengakhiri pembicaraan dua hari di Ankara. Dua putaran negosiasi sebelumnya di Ankara dan Moskow belum menghasilkan kesepakatan gencatan senjata yang diinginkan.
 
Beberapa jam sebelumnya, televisi pemerintah Rusia mengklaim spesialis militer Turki menggunakan rudal yang dipanggul bahu mencoba menembak jatuh pesawat militer Rusia dan Suriah di atas Idlib. Perkembangan itu, jika terkonfirmasi, akan menandai eskalasi serius konflik lainnya.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif