Kecurigaan Turki langsung tertuju pada kelompok separatis Kurdistan dan kelompok militan Islamic State (ISIS). Salah satu dari dua grup itu diyakini sebagai dalang di balik ledakan.
Peristiwa terjadi dalam aksi unjuk rasa damai dalam mendorong diakhirinya bentrokan antar Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dengan pemerintah Turki.
"Ini adalah serangan yang tidak membidik grup tertentu; ini adalah serangan terhadap seluruh negara, terhadap kesatuan kita. Turki adalah negara yang berhasil menjaga perdamaian di kawasan," ujar Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, seperti dikutip CNN.
PM Davutoglu mengaku sudah mendapat peringatan akan ancaman bom bunuh diri. Tiga hari sebelum ledakan, aparat Turki telah menangkap dua tersangka.
Turki telah menghindari konflik dengan ISIS, terutama setelah pembebasan puluhan warganya oleh grup ekstremis itu di kota Mosul, Irak, pada awal 2015. Kesepakatan antara pemerintah Turki dan ISIS tidak pernah diumumkan.
Namun, Turki mengubah sikapnya dan mengizinkan Amerika Serikat meluncurkan serangan terhadap ISIS dari Pangkalan Udara Incirlik di wilayah selatan Turki.
Baik separatis Kurdistan maupun ISIS sama-sama mempunyai motif dalam melancarkan serangan bom bunuh diri ganda di Ankara. Namun, hingga saat ini belum satu pun pihak yang mengklaim bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News