Dibantu serangan udara Amerika Serikat (AS), pasukan yang beraliansi dengan pemerintahan bersatu Libya (GNA), mencoba merebut kota pesisir tersebut, yang juga merupakan tempat kelahiran dari diktator Moamer Kadhafi. ISIS menguasai Sirte sejak Juni 2015.
Jika Sirte berhasil direbut, maka akan menjadi pukulan telak bagi ISIS yang telah mengalami banyak kekalahan di Suriah dan Irak.
"Kami berusaha memperkuat agresi pasukan kami dengan bantuan serangan udara Amerika yang memberikan momentum," kata Reda Issa, juru bicara pasukan loyalis GNA, seperti dilansir AFP.
Pesawat jet tempur AS melancarkan tujuh serangan udara terhadap posisi ISIS di Sirte pada Senin dan Selasa kemarin. Namun Issa tidak menyebut apakah ada serangan serupa pada Rabu.
Loyalis GNA sudah bertempur dengan ISIS Sirte sejak 12 Mei. Pasukan berhasil menguasai beberapa titik, seperti pelabuhan, bandara internasional, sebuah pangkalan udara dan rumah sakit.
Namun pergerakan loyalis terhambat perlawanan ISIS dengan menggunakan penembak jitu, bom mobil dan serangan bunuh diri.
"Ada target yang sulit digempur karena terhalang perumahan," tutur Issa. "Serangan udara Amerika, yang sangat akurat, dapat membantu menghancurkan target tersebut."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News