Konvoi militer Turki dalam patroli di sebuah wilayah Suriah yang dekat dengan basis kekuatan Kurdi. (Foto: AFP).
Konvoi militer Turki dalam patroli di sebuah wilayah Suriah yang dekat dengan basis kekuatan Kurdi. (Foto: AFP).

Diklaim Gabung Turki Serang Kurdi, Iran Membantah Keras

Internasional turki iran kurdi
Arpan Rahman • 19 Maret 2019 20:07
Antalya: Turki mengklaim Iran bergabung dengannya untuk melancarkan operasi militer gabungan terhadap pemberontak Kurdi di sepanjang perbatasan timur Turki.
 
Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu, mengatakan serangan pada Senin menargetkan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang terlarang.
 
"Pada pukul 8:00 pagi ini (waktu setempat), kami memulai operasi dengan Iran yang ditujukan atas PKK di perbatasan timur kami. Kami akan mengumumkan hasilnya nanti," bubuhnya, seperti dinukil dari laman Al Jazeera, Senin 18 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Soylu, yang pertama berbicara tentang serangan yang direncanakan pada 6 Maret, tidak memberi rincian lebih lanjut.
 
Namun, kantor berita resmi Iran IRNA -- mengutip sumber militer anonim -- melaporkan pasukan Iran tidak terlibat dalam serangan itu.
 
“Militer Iran tidak memiliki peran apapun dalam operasi ini. Tetapi Iran akan melawan apapun yang mencoba menggoyang pemerintahan kami yang stabil,” ujar pihak Iran, seperti dikutip AFP, Selasa, 19 Maret 2019.
 
PKK, yang dianggap sebagai "organisasi teroris" oleh Ankara dan banyak negara Barat, bertempur melawan pemerintah Turki selama lebih dari tiga dekade guna menuntut otonomi bagi minoritas Kurdi di negara itu.
 
Puluhan ribu telah terbunuh dalam konflik. Kelompok ini beroperasi di Turki dan Irak utara di bawah bendera sendiri, dan sebagai Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di Suriah. Cabang Irannya, Partai Kurdistan Free Life Party (PJAK), telah berperang terus-menerus dengan Teheran sejak 2004.
 
Pembicaraan damai antara PKK dan Ankara runtuh pada 2015. Militer Turki telah meningkatkan serangan udara dan darat terhadap kelompok itu, baik di dalam Turki maupun di Irak utara, lokasi pangkalan utama kelompok itu berada.
 
Militer juga melancarkan dua operasi di Suriah utara -- Perisai Efrat pada 2016 dan Ranting Zaitun pada 2018 -- demi mencegah YPG mengendalikan wilayah di sepanjang perbatasan selatan Turki.
 
Ankara juga membujuk Rusia -- pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad bersama Iran -- untuk menyingkirkan sayap politik YPG dari pembicaraan dengan sejumlah kelompok oposisi. Selain menegaskan kembali kesepakatan 1998 dengan pemerintah Suriah agar tidak mengizinkan PKK beroperasi di wilayah Suriah.
 
Kerja sama militer Ankara-Teheran
 
Pada Senin, kepala staf Iran, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, pergi ke Damaskus untuk membahas kiat memerangi ‘terorisme’ dengan para mitranya dari Suriah dan Irak, menurut media setempat.
 
Kantor Berita Mahasiswa Iran mengutipnya dengan mengatakan bahwa "pasukan asing" di Suriah, termasuk wilayah yang dikontrol oleh YPG, "harus meninggalkan tanah Suriah secepat mungkin" -- referensi yang jelas kepada pasukan Amerika Serikat yang kehadirannya di Suriah sejauh ini mencegah Ankara melakukan serangan besar-besaran terhadap YPG.
 
Kelompok ini menjadi tulang punggung Pasukan Demokrat Suriah (SDF), sekutu utama AS di Suriah melawan militan Islamic State (ISIS). Didukung kekuatan udara dan persenjataan AS, SDF telah mengurangi kontrol ISIS atas Suriah timur laut ke kubu kecil wilayah dekat perbatasan Irak.
 
Tetapi seiring keputusan Presiden AS Donald Trump pada Desember buat menarik pasukan AS dari Suriah, Turki telah berulang kali mengancam akan menyerang YPG.
 
Alexey Khlebnikov, analis Timur Tengah di Dewan Urusan Internasional Rusia, mengatakan jika Turki dan Iran memang bekerja sama melawan Kurdi, itu bisa memiliki implikasi yang lebih luas untuk kawasan. Namun Ziya Meral, peneliti berbasis di London, melihat dugaan operasi Turki dengan Iran harus dilihat hati-hati.
 
Sementara itu, pada Minggu, tentara Irak juga bentrok dengan gerilyawan PKK di Sinjar, dekat perbatasan negara itu ke Suriah. Sementara gerai berita Kurdistan24 melaporkan bahwa gerilyawan tak dikenal meyerang penjaga perbatasan Iran di wilayah Kurdi Iran.
 
Langkah itu, kata para ahli, meningkatkan kemungkinan pemberontak Kurdi dapat menghadapi tindakan keras di empat negara lokasi mereka beroperasi.
 
Tidak adanya perincian lebih lanjut tentang dugaan operasi bersama Turki-Iran. Paul Levin, direktur Institut Universitas Swedia untuk Studi Turki, berkata "semuanya bisa merupakan kebetulan atau lebih dari konflik intensitas rendah yang sama yang telah kita lihat selama bertahun-tahun."
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif