Asap terlihat dari bagian Khan Sheikun di Provinsi Idlib yang diserang pasukan Pemerintah Suriah. (Foto: AFP).
Asap terlihat dari bagian Khan Sheikun di Provinsi Idlib yang diserang pasukan Pemerintah Suriah. (Foto: AFP).

Suriah Umumkan Gencatan Senjata Sepihak di Idlib

Internasional krisis suriah konflik suriah
Arpan Rahman • 20 Mei 2019 19:12
Idlib: Pasukan Pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia, secara sepihak menghentikan tembakan di Provinsi Idlib. Wilayah itu terakhir dikuasai oleh pemberontak Pemerintah Suriah.
 
Namun, aktivis oposisi mengatakan penembakan dan serangan udara berlanjut pada Minggu meskipun ada pengumuman.
 
Disitat dari laman Al Jazeera, Senin 20 Mei 2019, pertempuran meletus di barat laut Suriah bulan lalu dan meruntuhkan gencatan senjata yang dinegosiasikan Rusia dan Turki akhir tahun lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasukan Pemerintah Suriah mengintensifkan serangan mereka ke Idlib, yang merupakan hunian bagi tiga juta orang, akhir April, ketika PBB dan sejumlah kelompok hak asasi manusia memperingatkan bencana kemanusiaan.
 
“Serangan oleh tentara Suriah dan sekutunya menumbangkan lebih dari 150.000 orang,” kata PBB.
 
Dalam sebuah pernyataan singkat pada Minggu, Pusat Rekonsiliasi Medan Pertempuran Kementerian Pertahanan Rusia di Suriah mengatakan pasukan pemerintah sudah berhenti menembak pada tengah malam.
 
Langkah itu digambarkan secara sepihak, tetapi tidak terdapat rincian lebih lanjut. Namun, Central Military Media Suriah yang pro-pemerintah mengatakan pasukan pemerintah membalas tembakan oleh pejuang pemberontak pada Minggu di pinggiran Idlib. Juga tidak memberikan rincian lebih lanjut.
 
Sementara itu, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), kelompok pemantau perang berbasis di Inggris, melaporkan serangan udara di kota Khan Sheikhoun, mengatakan hal itu menimbulkan korban.
 
Pertahanan Sipil oposisi Suriah juga melaporkan penembakan di dekat kota Jisr al-Shughour tanpa melaporkan adanya korban.
 
Kesepakatan Rusia-Turki
 
Rusia dengan tegas mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara delapan tahun. Sementara Turki mendukung beberapa kelompok pemberontak, tetapi kedua belah pihak telah bekerja bersama untuk berupaya menahan pertempuran di barat laut negara itu.
 
Turki dan Rusia menyepakati gencatan senjata di Idlib setelah Ankara berjanji melucuti senjata dan menyingkirkan gerilyawan Hay'et Tahrir al-Sham (HTS) di sana dalam kesepakatan yang dicapai September lalu di Kota Sochi, Rusia.
 
Kesepakatan itu muncul setelah eskalasi lain antara pasukan pemerintah dan militan HTS pada akhir 2018. Rusia dan Turki mendaftarkan HTS sebagai organisasi "teroris".
 
Perjanjian Sochi mencegah pasukan pemerintah meluncurkan operasi militer besar di Idlib dan melindungi apa yang disebut "zona de-eskalasi" yang disepakati antara Rusia, Iran, dan Turki pada 2017.
 
Sejak perjanjian Sochi, Moskow berulang kali mengatakan bahwa "kelompok-kelompok teroris" beroperasi di zona tersebut.
 
Rusia juga telah memberi tekanan pada Ankara agar memulai operasi di Idlib setelah kegagalan Turki mengeluarkan para gerilyawan HTS dari "zona de-eskalasi". Turki mengatakan serangan pemerintah Suriah baru-baru ini melanggar perjanjian Sochi.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif