Capres oposisi RD Kongo, Martin Fayulu. (Foto: AFP/File / John WESSELS)
Capres oposisi RD Kongo, Martin Fayulu. (Foto: AFP/File / John WESSELS)

Capres Kongo Minta Hasil Pilpres Segera Diumumkan

Internasional rd kongo
Willy Haryono • 09 Januari 2019 10:04
Kinshasa: Calon presiden Republik Demokratik Kongo dari kubu oposisi Martin Fayulu mengingatkan komisi elektoral untuk segera mengumumkan hasil pemilihan umum dan tidak "menyamarkan kebenaran." Pernyataan disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di RD Kongo karena hasil pilpres tak kunjung diumumkan.
 
Fayulu mengklaim "masyarakat Kongo sudah tahu" hasil dari pilpres ini, yang berlangsung pada 30 Desember tahun lalu. Awalnya, hasil pilres seharusnya diumumkan pada Minggu 6 Januari.
 
Pilpres RD Kongo digelar untuk mencari pengganti Joseph Kabila, yang mundur dari jabatannya usai 18 tahun berkuasa. Kabila berjanji pilpres ini, yang seharusnya digelar pada 2016, akan menjadi proses pemindahan kekuasaan pertama sejak demokratik sejak Kongo merdeka dari Belgia pada 1960.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Capres pilihan Kabila, mantan menteri dalam negeri Emmanuel Shadary, menghadapi perlawanan sengit dari Fayulu yang merupakan seorang mantan taipan minyak dan juga Felix Tshisekedi, anak dari tokoh oposisi ternama.
 
Seperti dikutip dari kantor berita BBC, Rabu 9 Januari 2019, Fayulu mengatakan Komisi Elektoral Nasional RD Kongo (Ceni) harus segera "merilis hasil pilpres dalam waktu dekat."
 
"Hasil pilpres tidak dapat dinegosiasikan lagi," tegas dia.
 
Baca:Hasil Pilpres RD Kongo Ditunda, Ketegangan Meningkat
 
Kepala Ceni, Corneille Nangaa, sebelumnya mengatakan bahwa suara di beberapa tempat pemungutan masih harus dihitung. Nangaa, yang tidak memberikan tanggal pasti kapan hasil pilpres diumumkan, meminta masyarakat untuk bersabar.
 
Sementara itu, Gereja Katolik di RD Kongo telah mengerahkan 40 ribu pengawas sepanjang pilpres. Pihak gereja mengaku sudah tahu siapa yang memenangkan pilpres.
 
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengarahkan 80 prajurit ke Gabon untuk melindungi warga Negeri Paman Sam jika sewaktu-waktu kekerasan meletus di RD Kongo.
 
Dalam sebuah surat kepada Kongres, Trump menyebut mungkin akan mengirim pasukan tambahan ke Gabon, atau bahkan ke RD Kongo.
 
Selama ini, RD Kongo belum pernah menjalani proses pemindahan kekuasaan via pilpres. Negara ini adalah penghasil kolbalt dan logal krusial lainnya dalam industri elektronik serta otomotif.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi