Dalam kesehariannya bersama ISIS, ia mengaku kerap diminta melakukan berbagai aksi seksual. Bukan aksi biasa, melainkan sesuatu yang membuat dirinya merasa begitu tersiksa.
"Terkadang saya berpikir untuk lebih baik mati saja," ucap dia.
"Namun ada bagian lain dari diri saya yang masih berharap dapat kembali melihat orangtua saya."
Korban diperbolehkan berbicara dengan surat kabar Italia La Repubblica via telepon genggam, karena ISIS ingin dunia mengetahui penyiksaan terhadap dirinya. Wawancara ini dilaporkan The Daily Telegraph dan dilansir Daily Mail, Senin (8/9/2014).
Orangtua korban, yang melarikan diri ke kamp pengungsian di Kurdistan, memberikan nomor telepon anaknya ke media.
"Untuk lebih menyakiti saya dan teman-teman saya, mereka (ISIS) memaksa kami menceritakan semua perbuatan bejat mereka pada orangtua kami," tutur dia.
"Mereka terus tertawa karena merasa kuat. Mereka menganggap diri mereka manusia super. Mereka adalah orang-orang yang tidak punya hati."
"Kami sempat meminta mereka untuk membunuh kami, tapi mereka menolak, dan mengatakan kami terlalu berharga."
Banyak di antara gadis Yazidi tahanan ISIS masih di bawah umur, termasuk satu orang yang baru 13 tahun. Mereka semua ditahan di sebuah bangunan dengan jendela berteralis besi yang dijaga ketat di sebuah desa kecil.
Semua gadis Yazidi ditangkap saat ISIS menggempur kota Sinjar pada 3 Agustus lalu. Dalam serangan itu, ribuan kaum Yazidi melarikan diri ke wilayah pegunungan terdekat.
Karena terperangkap di pegunungan, pasukan Amerika Serikat dan Inggris serta beberapa negara lainnya menyalurkan bantuan kemanusiaan via udara. Selain itu, AS juga menyerang ISIS melalui serangkaian serangan jet tempur.
Sebagian anggota ISIS adalah jihadis asal Inggris, yang mengaku sudah berjumlah lebih dari 300 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News