PBB: Pasukan Sudan Selatan Lakukan Kejahatan Perang
Sudan Selatan dilanda krisis akibat perang berkepanjangan (Foto: AFP).
New York: Sebuah laporan PBB yang diterbitkan, Selasa 10 Juli, menuduh pemerintah Sudan Selatan dan pasukan sekutunya melakukan 'pelanggaran berat hak asasi manusia berupa kejahatan perang'.
 
Divisi Hak Asasi Manusia dari Misi PBB di Sudan Selatan menemukan pasukan Sudan Selatan menyerang setidaknya 40 desa antara 16 April dan 24 Mei 2018. Selama waktu itu, 232 warga sipil, termasuk 35 anak-anak, tewas. Beberapa orang tua dan cacat dibakar hidup-hidup, kata badan tersebut.
 
Selain itu, laporan tersebut menyatakan 120 wanita atau gadis diperkosa atau dirudapaksa massal. Dalam satu insiden, saksi mengatakan seorang gadis 6 tahun jadi korban diperkosa oleh delapan tentara yang melanjutkan serangan mereka bahkan setelah gadis itu menjadi tidak sadarkan diri.
 
Serangan itu menyebabkan hampir 2.000 orang, lebih setengah dari mereka anak-anak, ke tempat perlindungan, sementara sekitar 8.000 orang mengungsi ke semak dan rawa.
 
Pasukan Sudan Selatan juga dituduh membakar atau menjarah fasilitas kemanusiaan di setidaknya 21 lokasi, yang mengakibatkan kematian setidaknya tiga pekerja bantuan nasional.
 
"Para penyerang tiba di desa ketika saya masih tidur," kata wanita berusia 75 tahun kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.
 
"Beberapa mengenakan seragam militer dan yang lain dengan pakaian sipil. Saya tidak punya waktu untuk berlari. Mereka meneriaki kami untuk keluar dari tukul (rumah tradisional) kami dan minta uang dan alkohol. Saya memberi mereka sedikit uang yang saya miliki, dan mereka bertanya di mana anak-anak dan ternak saya. Beberapa penyerang mulai membakar tukul, padi, dan stok makanan kami. Saya kehilangan segalanya, dan saya tidak memiliki harapan untuk masa depan saya. Saya bertahan hidup dengan makan akar. Akan lebih baik jika mereka akan membunuh saya," cetusnya, seperti disitir dari UPI, Rabu 11 Juli 2018
 
Guardian menyebutkan laporan PBB diperkirakan akan menekan pemerintah lain, termasuk Amerika Serikat, untuk memberlakukan lebih banyak sanksi atas pemerintah Sudan Selatan.
 
Perang antara pemerintah Sudan Selatan dan pemberontak dari utara berkecamuk sejak 2014. Puluhan ribu orang telah tewas dan lebih dari 2,5 juta mengungsi atau melarikan diri dari negara ini.
 
Kedua belah pihak sudah dalam pembicaraan damai, tetapi itu berantakan dalam beberapa hari terakhir.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id