Dilansir dari laman BBC pada Selasa, 22 September 2026, Pemerintah Metropolitan Tokyo secara terbuka menghimbau warganya dan wisatawan untuk membawa sampah sendiri jika tidak menemukan tempat sampah.
Jepang memperlihatkan bahwa persoalan kebersihan kota ternyata tidak hanya soal berapa banyak tempat sampah yang disediakan, tetapi juga soal siapa yang bertanggung jawab setelah sampah dihasilkan dan bagaimana sebuah kota membangun kebiasaan itu selama bertahun-tahun.
Salah satu titik balik penting terjadi pada 20 Maret 1995, ketika serangan gas sarin dilakukan kelompok Aum Shinrikyo di sistem kereta bawah tanah Tokyo. Pemerintah kemudian meningkatkan langkah keamanan di stasiun, termasuk mengurangi atau meniadakan tempat sampah di sejumlah lokasi.
Hal tersebut membuat masyarakat kemudian beradaptasi dengan membawa sampah sendiri. Sementara itu, untuk kebijakan anti buang sampah sembarangan, pemilahan, pembersihan jalan, dan perubahan kebiasaan ikut membentuk kondisi Tokyo yang dikenal bersih saat ini.
Tokyo Tetap Tak Butuh Tempat Sampah
Pemerintah Tokyo sendiri mengakui bahwa tempat sampah publik memang terbatas. Dalam panduan resmi untuk wisatawan, Tokyo bahkan menyarankan pengunjung membawa kantong kecil untuk menyimpan sampah sampai menemukan tempat pembuangan atau kembali ke tempat menginap.
Namun, pendekatan tersebut bukan berarti pemerintah membiarkan persoalan sampah begitu saja. Melalui program KEEP TOKYO CLEAN, pemerintah mendorong kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan dan membawa sampah pulang, sekaligus mendukung kegiatan bersih-bersih komunitas serta pemasangan fasilitas daur ulang dan smart bin di berbagai lokasi.
Tak hanya itu, Tokyo juga mulai menyediakan fasilitas yang lebih adaptif dengan pemasangan smart trash bin dan fasilitas daur ulang. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu bagian dari upaya mengatasi sampah berserakan, termasuk di titik transportasi dan fasilitas publik yang ramai dikunjungi.
Dan mulai pada 8 September 2026, JR East menguji tiga robot tempat sampah yang bergerak di area concourse bawah tanah. Robot tersebut dirancang berkeliling mengikuti rute tertentu, menerima sampah umum dan botol plastik, lalu kembali ke lokasi pengumpulan ketika penuh.
Uji coba dijadwalkan berlangsung hingga 20 November 2026 dan sekaligus menguji keamanan, kondisi saat stasiun ramai, serta penerimaan penumpang terhadap teknologi tersebut. (Wisa Irena Br Sitepu)