Masyarakat Sudan berunjuk rasa menentang Presiden Bashir yang telah berkuasa selama 30 tahun. (Foto: AFP/Getty)
Masyarakat Sudan berunjuk rasa menentang Presiden Bashir yang telah berkuasa selama 30 tahun. (Foto: AFP/Getty)

Dokter dan Remaja Tewas Ditembak dalam Demo di Sudan

Internasional konflik sudan
Arpan Rahman • 19 Januari 2019 11:14
Khartoum: Seorang dokter dan remaja berusia 16 tahun tewas ditembak dalam unjuk rasa menentang Presiden Omar al-Bashir di Sudan, Jumat 18 Januari 2019. Gelombang protes anti-pemerintah di Sudan ini sudah memasuki pekan kelima.
 
Menurut keterangan seorang anggota Sindikat Dokter Sudan, kedua korban terkena tembakan pasukan keamanan nasional yang menembaki sekumpulan demonstran. Sembilan pengunjuk rasa lainnya dilaporkan terluka dalam bentrokan, di mana para pedemo beraksi di sebuah rumah sakit di Khartoum.
 
"Sejak awal, pasukan keamanan merespons demo dengan kekuatan berlebih dan peluru tajam," ujar Dokter Amjed Farid. Ia menyebut dokter yang tewas bernama Babiker Abdulhemeed.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada 14 peluru tajam di tubuhnya," tambah Farid.
 
Unjuk rasa terbaru berlangsung di area Rumah Sakit Royal Care International Hospital di distrik Burri di ibu kota Sudan. Sejumlah aktivis di media sosial menyebut pasukan pemerintah membubarkan massa dengan gas air mata dan melakukan banyak penangkapan.
 
Seorang juru bicara oposisi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa korban ketiga tewas dalam aksi protes pada Kamis 17 Januari.
 
Pertama terjadi pada Desember tahun lalu, unjuk rasa memprotes penaikan harga-harga berubah menjadi kemarahan menyeluruh terhadap Presiden Bashir yang telah berkuasa selama 30 tahun.
 
Satu warga Khartoum mengatakan kepada BBC bahwa unjuk rasa mengecam perekonomian negara telah berlangsung di Sudan sejak beberapa tahun terakhir. "Tapi kali ini, situasinya sangat berbeda," ucap dia.
 
"Saya rasa masyarakat sudah tidak dapat menerima kondisi saat ini. Momentum unjuk rasa telah menumpuk selama bertahun-tahun," lanjut dia.
 
Presiden Bashir menuding adanya kekuatan asing di balik demonstrasi. Dia berkukuh akan tetap berkuasa, dan menantang para rival untuk mengalahkannya hanya melalui "pemilihan umum yang adil dan bebas."
 
Komisioner Hak Asasi Manusia dari Perserikatan Bangsa-bangsa Michelle Bachelet mengaku "sangat khawatir" terhadap situasi di Sudan. Ia menyerukan pemerintah Sudan untuk menghormati hak warga untuk "berkumpul secara damai."
 
Data PBB mencatat pasukan keamanan Sudan sejauh ini telah menangkap 816 orang dalam unjuk rasa sejak tahun lalu.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif