Partai pimpinan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, AKP, kalah dalam pemilu daerah Istanbul. (Foto: AFP)
Partai pimpinan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, AKP, kalah dalam pemilu daerah Istanbul. (Foto: AFP)

Kalah di Pilkada Istanbul, Erdogan Tetap Percaya Diri

Internasional politik turki turki
Arpan Rahman • 26 Juni 2019 16:02
Istanbul: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berjanji untuk mengambil pelajaran setelah kekalahan pemilu yang menyakitkan di Istanbul. Janjinya dipicu tudingan atas keputusannya memaksakan pemilihan wali kota kota ulang.
 
Baca juga: Jagoan Erdogan Kalah Lagi di Pilkada Ulang Istanbul.
 
Berbicara perdana di depan publik sejak pemilu Minggu, Erdogan tampil di stasiun televisi untuk Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP). Ia menghiraukan pesan yang dikirim oleh pemilih yang memberi kemenangan besar kepada oposisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dalam pemahaman kita tentang politik, kita sama sekali tidak boleh marah, atau menyalahkan publik. Kita tidak bisa menutup telinga dan mengabaikan pesan yang diberikan oleh masyarakat," sambungnya, disitat dari Financial Times, Rabu, 26 Juni 2019.
 
AKP mengalami kemunduran politik terburuk dalam 17 tahun kekuasaannya ketika keputusan untuk mengulang kembali pemilihan wali kota Maret menjadi bumerang. Ekrem Imamoglu, penantang oposisi yang memenangkan kontes awal dengan selisih tipis, tidak hanya menang lagi tetapi secara besar-besaran meningkatkan mayoritasnya.
 
Hasil Minggu berisiko menambah parah ketidakpuasan yang tumbuh di antara anggota partai Erdogan. Ada kritik atas penanganan Presiden terhadap krisis ekonomi yang mencekik, hubungannya yang buruk dengan Barat, dan nada polarisasi yang sering ia dan kabinetnya sampaikan.
 
Beberapa mantan petinggi partai sedang mempertimbangkan membentuk gerakan yang memisahkan diri, menurut beberapa sumber yang tahu dengan rencana mereka.
 
Pihak lain di dalam AKP mengeluh bahwa sistem tata kelola baru yang mulai berlaku tahun lalu sudah merusak saluran komunikasi lama partai. Karena menyerahkan pengambilan keputusan kepada lingkaran kecil di sekitar Erdogan.
 
Mengaku tersirat atas keprihatinan itu, pada Selasa presiden mengumumkan telah memerintahkan peninjauan atas "kekurangan, kelemahan, dan perbaikan yang diperlukan" dalam implementasi sistem baru. Dia menambahkan: "Membangun reformasi besar seperti itu tentu saja butuh waktu."
 
Ketegangan soal Istanbul meluap terbuka pada Senin malam ketika Menteri Dalam Negeri Turki menelepon dalam debat siaran langsung TV buat berunding dengan seorang jurnalis pro-pemerintah terkemuka.
 
Suleyman Soylu keberatan dengan pernyataan Nagehan Alci, kolumnis yang memanfaatkan diskusi di Haberturk TV buat mengumbar nada sinis terhadap kampanye dan menuduh Soylu "tidak menghormati kotak suara".
 
Soylu, yang berulang kali berupaya mengaitkan Imamoglu dengan kelompok militan Kurdi yang terlarang PKK, mengatakan langsung di udara bahwa terserah kepada publik untuk memutuskan apakah komentarnya tentang memerangi terorisme terlalu keras dan menggambarkan tuduhan itu "tidak adil".
 
Beberapa analis telah menyarankan bahwa para menteri yang berkuasa termasuk di antara mereka yang bisa digeser jika Erdogan melakukan perombakan kabinet dalam beberapa pekan mendatang guna menenangkan para pengkritiknya.
 
"Jika hal seperti itu diperlukan kami akan melakukannya. Tapi kami tidak akan melakukan hal-hal ini berdasarkan pesanan," kata Erdogan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif