Aksi Kekerasan Hambat Penanganan Ebola di DR Kongo
Tim dokter MSF memasuki zona penanganan Ebola di DR Kongo. (Foto: AFP)
Beni: Pemerintah Republik Demokratik Kongo menghentikan sementara upaya menanggulangi wabah virus Ebola di kota Beni karena memburuknya gelombang kekerasan kelompok pemberontak. Wabah Ebola di DR Kongo telah menewaskan lebih dari 200 orang sejak Agustus lalu.

"Seorang milisi melancarkan serangan hanya beberapa meter dari pusat darurat (penanganan Ebola)," ucap Kementerian Kesehatan DR Kongo, seperti disitat dari kantor berita BBC, Minggu 18 November 2018.

Staf dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terpaksa melarikan diri saat sebuah mortir mengenai gedung tempat mereka bekerja di Beni. Belum diketahui pasti kapan upaya penanggulangan Ebola ini dilanjutkan.


Kemenkes DR Kongo menuding Pasukan Demokrasi Sekutu (ADF) sebagai dalang di balik serangan di Beni. ADF adalah grup militan asal Uganda yang aktif sejak era 1990-an.

Namun hingga kini belum diketahui pasti siapa yang meluncurkan mortir ke arah bangunan tempat 16 staf WHO bekerja. Mortir itu mendarat di bangunan WHO saat terjadi baku tembak di sekitar Beni.

Petugas medis di beberapa wilayah DR Kongo berhenti memberikan vaksinasi kepada warga atas alasan keamanan sejak dua bulan lalu. Serangan pemberontak di DR Kongo pada September telah menewaskan 18 orang.

Tujuh personel penjaga perdamaian PBB dan 12 prajurit Kongo tewas belum lama ini dalam sebuah operasi gabungan melawan ADF. 



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id