Ilustrasi Krisis. Foto: Freepik
Ilustrasi Krisis. Foto: Freepik

Dunia Sedang Dibayang-bayangi Krisis, Sebenarnya Apa Itu Krisis?

Annisa ayu artanti • 05 November 2026 17:03
Ringkasnya gini..
  • Krisis merupakan situasi serius yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan melampaui kemampuan penanganan normal.
  • Konflik geopolitik, tekanan ekonomi, dan perubahan iklim menjadi sejumlah risiko yang membayangi dunia.
  • Indonesia juga menghadapi berbagai risiko, meskipun belum berarti seluruh kondisi nasional berada dalam situasi krisis.
Jakarta: Dunia tengah menghadapi berbagai ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik, perubahan iklim, ancaman bencana, hingga tekanan ekonomi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap potensi krisis yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Sejumlah negara bahkan mulai mengimbau warganya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat di rumah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya layanan publik dan distribusi kebutuhan pokok.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan krisis? Apakah setiap ancaman dan ketidakpastian dapat dikategorikan sebagai krisis?

Mengutip Government Resilience Framework pada Kamis, 5 November 2026, krisis merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan, keselamatan, keamanan, atau kesejahteraan masyarakat secara luas.

Artinya, krisis tidak selalu berbentuk perang, pandemi, atau bencana besar. Gangguan pasokan pangan dan energi, sistem keuangan, hingga infrastruktur penting juga dapat berkembang menjadi krisis apabila dampaknya meluas dan mengganggu kehidupan masyarakat.

Centre for Disaster Protection juga menjelaskan bahwa krisis terjadi ketika kebutuhan penanganan sudah melampaui kapasitas yang tersedia untuk mencegah, mengurangi, atau merespons dampaknya. Dalam konteks bencana, UNDRR juga menyoroti interaksi antara ancaman, kerentanan, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi risiko.

 

Mengapa Dunia dan Indonesia Dibayangi Risiko Krisis?


Salah satu faktor yang meningkatkan risiko krisis adalah ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, dan perubahan harga energi.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook Oktober 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,1 persen pada 2026. IMF juga mengingatkan adanya risiko perlambatan akibat eskalasi konflik, ketegangan perdagangan, dan kerentanan ekonomi.

Tekanan serupa turut menjadi perhatian Indonesia. Dalam asesmen pada 3 November 2026, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional sepanjang triwulan III masih terjaga. Namun, memasuki Oktober, eskalasi konflik geopolitik dan kenaikan harga energi global mulai memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta pasar keuangan.

Selain ekonomi, perubahan iklim juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai. BMKG menyebut fenomena El Nino berada pada fase sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini berpotensi memengaruhi pola hujan, ketersediaan air, serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah.

Berbagai kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman krisis dapat muncul dari berbagai sektor dan saling berkaitan. Meski demikian, bukan berarti Indonesia maupun dunia saat ini sudah berada dalam satu krisis besar.

Krisis bisa berkembang secara bertahap ketika berbagai masalah menumpuk dan tidak tertangani. Karena itu, memahami risiko dan memperkuat kesiapsiagaan menjadi penting agar masyarakat dan pemerintah dapat mengantisipasi dampaknya sebelum situasi semakin memburuk. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan