Melansir dari laman IMF Blog pada Sabtu, 31 Oktober 2026, proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik tahun ini dinaikkan menjadi 4,8 persen, dari sebelumnya 4,4 persen. Sementara itu, perkiraan pertumbuhan tahun depan juga meningkat dari 4,2 persen menjadi 4,4 persen.
Dengan capaian tersebut, Asia-Pasifik diperkirakan tetap menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Kawasan ini diproyeksikan menyumbang sekitar dua pertiga dari total pertumbuhan global, meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan 5 persen pada tahun sebelumnya.
Permintaan Teknologi dan Perdagangan Menopang Pertumbuhan
Peningkatan proyeksi pertumbuhan terutama terjadi di India, Korea Selatan, dan sejumlah negara Asia Tenggara. Salah satu pendorongnya adalah tingginya permintaan global terhadap produk teknologi, terutama semikonduktor kelas atas, komponen elektronik, dan pembangunan data center.
Ketahanan ekonomi kawasan juga didukung kemampuan negara-negara Asia beradaptasi terhadap gejolak pasokan minyak. China memanfaatkan cadangan minyak dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan untuk menekan permintaan. India dan Jepang juga mencari sumber pasokan alternatif.
Di sisi perdagangan, ekspor berbagai produk, termasuk barang nonteknologi masih tumbuh. Perdagangan antarnegara Asia bahkan meningkat ketika perdagangan dengan Amerika Serikat mengalami penurunan. Sejumlah pemerintah juga memilih memperkuat kerja sama perdagangan regional dibandingkan menerapkan kebijakan yang membatasi arus perdagangan.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut belum dirasakan secara merata. Negara berpenghasilan rendah dan kepulauan Pasifik justru menghadapi tekanan lebih besar akibat lonjakan harga bahan bakar. Kenaikan harga diesel dapat membebani pembangkit listrik, sementara mahalnya bahan bakar pesawat berdampak pada biaya perjalanan udara.
Tantangan lainnya datang dari kondisi keuangan negara. Harga minyak diperkirakan masih tinggi dan berfluktuasi, sedangkan subsidi energi yang terlalu luas dapat menambah beban anggaran pemerintah. Pada saat bersamaan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah membuat keberlanjutan keuangan publik semakin menjadi perhatian investor.
AI Mengubah Pasar Kerja, Asia Butuh 150 Juta Pekerjaan Baru
Selain gejolak energi, perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan jangka panjang bagi perekonomian Asia. Kawasan ini diperkirakan perlu menciptakan hampir 150 juta lapangan kerja baru dalam satu dekade mendatang.
Kebutuhan tersebut muncul ketika sektor manufaktur yang selama ini menjadi sumber penyerapan tenaga kerja semakin padat modal. Kondisi ini membuat negara-negara Asia perlu memperluas kesempatan kerja di sektor jasa, terutama pekerjaan berbasis pengetahuan dan keterampilan.
Analisis terhadap jutaan lowongan pekerjaan online menunjukkan bahwa kehadiran AI sempat menurunkan permintaan tenaga kerja hingga 10 persen pada jenis pekerjaan yang lebih banyak terpapar teknologi tersebut dibandingkan pekerjaan dengan paparan lebih rendah. Namun, penurunan itu mulai stabil meskipun kemampuan AI terus berkembang.
Di sisi lain, perusahaan justru semakin membutuhkan pekerja yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. Keterampilan seperti menyusun instruksi bagi AI, mengolah data, dan menghubungkan teknologi dengan keahlian di lingkungan kerja menjadi semakin dibutuhkan.
Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak semata-mata menghilangkan pekerjaan, tetapi juga mengubah jenis pekerjaan dan keterampilan yang dicari perusahaan. Karena itu, tantangan Asia-Pasifik bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan juga menyiapkan pendidikan dan pelatihan agar generasi muda mampu bersaing di pasar kerja yang semakin digerakkan teknologi. (Wisa Irena Br Sitepu)