Pernyataan tersebut disampaikan di tengah konflik yang dinilai mengalami kebuntuan atau stalemate setelah rencana gencatan senjata awal gagal terlaksana.
Menurutnya upaya diplomatik untuk kembali membuka proses perdamaian disebut belum menunjukkan perkembangan signifikan. Negosiasi dilaporkan terhenti sejak Juni lalu.
Panetta, yang pernah menjabat Menteri Pertahanan pada era Presiden Barack Obama serta memimpin CIA, memperingatkan konflik di bawah pemerintahan Donald Trump berisiko berkembang menjadi perang berkepanjangan lainnya di Timur Tengah. "Bukan rahasia lagi bahwa Amerika Serikat dan Iran terjebak dalam kebuntuan yang mengerikan. Sebenarnya hanya ada sedikit pilihan yang tersedia untuk mengakhiri perang ini," ujar Panetta dalam wawancara dengan The Guardian.
Ia menilai perang tersebut masih berlanjut selama enam bulan ke depan apabila tidak ada penyelesaian.
Panetta juga menyoroti laporan mengenai ketegangan internal di Pentagon yang dinilai dapat melemahkan posisi Amerika Serikat di mata dunia.
"Baik itu Iran maupun musuh-musuh kita lain, mereka sekarang melihat Amerika Serikat dan melihat kelemahan dalam kemampuan kita untuk benar-benar menerapkan kapabilitas militer guna membela negara. Yang saya khawatirkan adalah kita mengirimkan pesan kelemahan kepada musuh-musuh utama,” pungkasnya.
Eskalasi di Selat Hormuz
Pernyataan Panetta disampaikan ketika Iran menyatakan akan meningkatkan upaya menghadapi persoalan ekonomi akibat sanksi Amerika Serikat.
Komando Pusat AS atau US Central Command melaporkan telah menyerang tiga tanker Iran pada Sabtu (5/9/2026). Serangan tersebut terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan rudal balistik ke dua kapal angkatan laut AS.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf pada Minggu (6/9/2026) menegaskan Amerika Serikat harus memahami bahwa aturan main dalam perang melawan Iran telah berubah.
"Mulai sekarang, setiap serangan terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan menerima respons yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan," kata Qalibaf.