Mata Uang Iran. Foto: getty images
Mata Uang Iran. Foto: getty images

Ekonomi Iran Disebut Tak Runtuh Meski Ditekan AS, Begini Kondisinya Sekarang

Annisa ayu artanti • 02 September 2026 14:38
Ringkasnya gini..
  • Ekonomi Iran disebut masih berjalan meski menghadapi sanksi AS, perang, inflasi tinggi, pengangguran, dan tekanan terhadap nilai tukar rial yang terus meningkat.
  • Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnasser Hemmati mengatakan negaranya memiliki cadangan valuta asing yang cukup dan siap menyuntikkan 2 miliar dolar AS untuk menopang rial.
  • Di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi dan perang, Iran masih memiliki pendapatan serta piutang valuta asing meski inflasi tinggi, pengangguran meningkat, dan nilai rial kembali tertekan.
Jakarta: Sekilas, ekonomi Iran terlihat sedang berada di ujung tanduk. Sanksi yang makin ketat, perang, inflasi tinggi, hingga nilai rial yang terus tertekan membuat kondisi ekonomi negara tersebut menjadi sorotan.

Namun, pemerintah Iran punya cerita yang berbeda. Dilansir dari laman Anadolu Ajansi pada Rabu, 2 September 2026, Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnasser Hemmati, mengatakan negaranya masih memiliki cadangan valuta asing yang cukup dan bahkan siap menggelontorkan USD2 miliar atau sekitar Rp31 triliun ke pasar valuta asing untuk menopang nilai rial. 

“Iran memiliki valuta asing, dan jumlahnya cukup,” tegas Hemmati yang ditujukan kepada Presiden AS, Donald Trump, dalam sebuah konferensi di Teheran Pada Selasa, 1 September 2026.

Hemmati juga membantah anggapan bahwa perekonomian Iran sedang mengalami keruntuhan. Ia mengatakan Iran masih memperoleh pendapatan dan memiliki piutang dalam valuta asing, ditambah cadangan domestik serta sumber daya lainnya yang menurutnya tidak bisa diungkapkan secara terperinci.

Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa di balik tekanan ekonomi yang besar, Iran masih berusaha mempertahankan sistem ekonominya agar tetap berjalan. 
 
Baca Juga: 

Iran Balik Serang Pangkalan AS di Timur Tengah, Rudal Meluncur ke Yordania hingga Kuwait

Inflasi Tinggi dan Pengangguran Jadi Masalah

Meski memiliki cadangan valuta asing yang cukup, bukan berarti kondisi ekonomi Iran sedang baik-baik saja. Hemmati mengakui sistem ekonomi negaranya menghadapi tekanan besar akibat sanksi baru, sementara pelemahan rial belakangan ini menurutnya turut dipengaruhi faktor psikologis di pasar.

Ia juga menolak anggapan bahwa Iran sudah masuk ke fase hiperinflasi, meski tingkat inflasi masih tinggi. Menurut Hemmati, kemungkinan terjadinya hiperinflasi masih rendah, tetapi perang dan kerusakan sejumlah infrastruktur telah ikut mendorong kenaikan pengangguran.

Rial Tertekan, Iran Hadapi Tekanan dari AS

Tekanan terhadap ekonomi Iran semakin terasa ketika rial kembali melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sanksi Washington dan dampak ekonomi perang AS-Israel. AS juga memperluas kampanye tekanan ekonominya terhadap Teheran dengan menyasar sumber pendapatan utama Iran serta aktivitas perdagangan internasionalnya.

Di sisi lain, pemerintah Iran berusaha menjaga agar roda ekonomi tetap bergerak. Hemmati mengatakan usaha kecil dan menengah akan menjadi prioritas dalam penyaluran pembiayaan pada paruh kedua tahun Iran, sementara upaya diplomatik dengan AS juga sempat dilakukan melalui memorandum 14 poin pada Juni untuk mengakhiri perang, meski kesepakatan sementara tersebut kemudian mengalami kebuntuan. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan