Para pemuda di Zimbabwe mulai turun ke jalan menuntut Presiden Robert Mugabe mundur (Foto: AFP).
Para pemuda di Zimbabwe mulai turun ke jalan menuntut Presiden Robert Mugabe mundur (Foto: AFP).

Generasi Muda Zimbabwe Anggap Mugabe Sepelekan Keadaan Negara

Arpan Rahman • 18 November 2017 17:09
Bulawayo: Kala Sandra Musakasa mengunjungi kampung halamannya, kota kedua terbesar di Zimbabwe, tidak ada teman masa kecil atau sesama perguruan tinggi yang tersisa untuk dicari. Mereka semua sudah melarikan diri demi mencari pekerjaan. Pekerjaan sulit didapat di negara di mana hingga 90 persen para pemudanya menganggur.
 
"Jika saya pergi ke Bulawayo, saya bahkan tidak dapat menemukan satu teman akrab yang dulu sama-sama bersekolah. Kebanyakan mereka pergi ke Afrika Selatan," katanya sambil mengangkat bahu. Beranjak dewasa dan bekerja di Zimbabwe membuat dia menjadi anggota kelas elit kecil.
 
(Baca: Rakyat Zimbabwe Turun ke Jalan Tuntut Mugabe Mundur).

Pada usia 29 tahun dia jadi bagian dari generasi frustrasi, lahir, dibesarkan, dan dididik di bawah kepresidenan Robert Mugabe. Mereka membentuk mayoritas warga Zimbabwe yang telah mengalami masa-masa sulit akibat salah urus ekonomi. Sekitar tiga perempat penduduk berusia di bawah 35 tahun hari ini. 
 
"Mugabe telah menormalisasi yang abnormal," kata Moses Chibaya, 32, aktivis dan penulis di Harare. Ia mengatakan bahwa sebagian besar rekan dan teman sekelasnya gagal mendapatkan pekerjaan.
 
"Setiap hari mereka bangun dan tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Dan ini satu hal yang saya tunggu (setelah kudeta), agar Mugabe mengalami hal yang sama, bangun di pagi hari dan tidak tahu apa yang akan dia lakukan," geramnya seperti dikutip Guardian, Sabtu 18 November 2017.
 
Pengangguran tinggi
 
Jutaan lulusan sekolah menengah dan universitas yang diproduksi oleh salah satu sistem pendidikan terbaik di Afrika itu telah berusaha bekerja di luar negeri karena industri domestik ambruk dan inflasi melonjak. Yang lain berjuang demi memenuhi kebutuhan kerja kasar atau manual sedikit demi sedikit yang tidak memerlukan keahlian mereka.
 
"Zimbabwe sekarang membutuhkan perubahan melalui cara apa pun," kata Succeed, yang meraih gelar sarjana dari Universitas Midlands pada 2014. Namun sejak lulus dia menganggur.
 
Mereka lama putus asa bertahun-tahun "menyia-nyiakan bakat, kehilangan waktu, dan sumber daya yang dihabiskan orang tua saya untuk membiayai pendidikan saya," dan dia tahu jelas di mana kesalahannya terletak. "Kami adalah korban pemerintah, yang menurut saya pribadi hampa, kepayahan, dan tidak mengerti."
 
Kendala pekerjaan bersifat korosif tidak hanya bagi mereka yang telah lulus lalu menjadi pengangguran. Di negara yang bangga dengan populasinya yang sangat terpelajar, insentif untuk belajar semakin jauh.
 
"Orangtua biasa mempresentasikan pendidikan sebagai satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan," kata Kuda, pemuda berusia 25 tahun. "Tapi sekarang Anda melihat mereka yang bekerja keras hanya duduk-duduk di rumah tanpa pekerjaan, tidak ada inspirasi buat belajar," tambahnya.
 
Tangan besi Mugabe
 
Penyalahgunaan alkohol dan masalah lainnya juga meningkat, karena kalangan pemuda berjuang menemukan pekerjaan. Tingkat pengangguran lebih banyak daripada yang bekerja.
 
Selama bertahun-tahun, cengkeraman tangan besi Mugabe di negara itu juga mengubah pemuda melupakan pemilu, kata Chibaya, yang sedang menyelenggarakan pesta "pendaftaran pemilih" dengan musik dan barbekyu bagi 5.000 anak muda di Harare, pada Kamis 16 November.
 
Di antara kekurangan kertas suara, banyak yang merasa bahwa pemilu tidak ada gunanya di negara di mana satu orang memiliki kekuasaan selama hampir tiga dekade.
 
Hampir sepertiga penduduk terdaftar untuk memilih sebelum pemilu baru-baru ini, menurut lembaga riset lokal dan LSM, Research and Advocacy Unit. Tapi hanya sebagian kecil dari calon pemilih yang memberikan suara dalam pemilihan baru-baru ini.
 
Meski difavoritkan menggantikan Mugabe, Emmerson Mnangagwa, yang jauh dari sosok reformis, mengemban harapan agar pemilihan presiden berikutnya akan menjadi pertanda perubahan nyata.
 
Harapan dari kudeta
 
Siswa berusia delapan belas tahun, Philip, mengatakan upaya kudeta meyakinkannya buat mendaftar pemilu. Pemungutan suara harus diadakan pada pertengahan tahun depan, namun bisa saja diadakan lebih cepat.
 
"Jika militer tidak mengambil tindakan, saya tidak akan menghiraukan keadaan. Karena meski saya memilih, pasti orang yang sama akan menang," katanya. "Saya senang melihat mereka menangani urusan ini, setidaknya mereka menantang (Mugabe) jika tidak ada orang lain yang melakukannya," cetusnya.
 
Dia berharap bisa menjadi fotografer, dan mendaftar kuliah di Afrika Selatan, sebagian karena menurut dia sejumlah universitas Zimbabwe susah dengan sumber daya dan pengajaran. Tapi dia juga berharap mencari pekerjaan di sana.
 
"Orang-orang di sini mendapatkan pendidikan, tapi mereka tidak dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Itu tidak masuk akal bagi negara kita," katanya. "Saya hanya berharap semuanya akan membaik sekarang."
 
Ekonomi terpuruk
 
Kebangkitan ekonomi yang dahsyat akan menguntungkan kaum muda yang tidak pernah berhasil mencapai universitas. Seperti Takudzwa berusia 24 tahun, yang menjadi buruh konstruksi dengan upah USD5 atau USD10 per hari.
 
Seringkali dia berjalan kami sampai 16km untuk bekerja dan kembali pulang, demi menghemat USD1 ongkos bus. "Saya harap ini akan menjadi perubahan. Hanya ada sedikit kesempatan untuk kita," katanya tentang kudeta tersebut. 
 
Yolanda -- yang berusia 20 tahun, bekerja sebagai pembantu dengan gaji USD100 sebulan demi membayar uang sekolah saudaranya -- berharap pemerintah baru mengizinkannya kembali belajar dan menahan kenaikan inflasi. "Mata uang di sini tidak berharga. Saya ingin mereka mengatur uang kita," katanya. 
 
Bukan hanya ekonomi yang diharapkan orang muda akan berubah seiring dengan berakhirnya era Mugabe.
 
"Saya harap kita bisa mendapatkan jaminan sosial, perlindungan hak asasi manusia, dan keadilan," kata Kuda. "Jenis demokrasi yang kita kenal adalah demokrasi di atas kertas, bukan dalam praktik," pungkasnya.
 


 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan