Milisi Turki yang menyerang wilayah dikuasai kelompok Kurdi di Kota Ayn al-Arus. Foto: AFP
Milisi Turki yang menyerang wilayah dikuasai kelompok Kurdi di Kota Ayn al-Arus. Foto: AFP

Dubes Arab Saudi Tuding Turki Kacaukan Suriah

Internasional arab saudi Turki serang Kurdi
Arpan Rahman • 15 Oktober 2019 18:11
London: Serangan Turki di Suriah timur laut menjadi bencana bagi kawasan itu dan telah melemahkan kepercayaan Arab Saudi pada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Duta Besar Arab Saudi untuk Inggris, Pangeran Khalid bin Bandar bin Sultan Al Saud mengklaim negaranya merugi.
 
Dia juga mengklaim negaranya merugi lebih banyak daripada Iran dari konflik antara kedua negara. Arab Saudi ingin berlaku sebagai ‘orang bijak di kawasan itu’ dengan tidak meningkatkan ketegangan atas Teheran. Dia katakan, Arab Saudi akan jatuh lebih jauh jika terjadi konflik.
 
"Serangan Turki menciptakan kekacauan. Hal terakhir yang kami khawatirkan adalah satu lagi kekacauan di kawasan dan saya pikir kami baru saja mendapatkannya,” ujar Pangeran Khalid, di lembaga peneliti pertahanan Royal United Services Institute.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ditanya tentang sanksi nyata Presiden AS atas invasi pekan lalu, dia menjawab: "Kami prihatin, tidak ada pertanyaan. Apa yang terjadi di Suriah dengan Turki dan penarikan pasukan tidak memberikan kepercayaan yang luar biasa."
 
Dia merasa terganggu oleh beberapa pernyataan Trump baru-baru ini, menggambarkannya sebagai ‘monster tweet’, tetapi mengakui kadang-kadang cuitan hanya reaksi awal presiden.
 
Khalid menunjuk keputusan AS mengirim pasukan dan pertahanan udara ke Arab Saudi sebagai tanda komitmen AS yang berkelanjutan terhadap Timur Tengah. Tetapi dia mengingatkan, dalam referensi ke saingan Arab Saudi, Iran: "Siapa yang mendapat manfaat dari setiap bencana di Timur Tengah dalam 10 tahun terakhir? Itu bukan Arab Saudi, pasti."
 
Pangeran Khalid menguak kembali klaim itu, diulangi pada Senin oleh Trump, bahwa Arab Saudi hanya bertindak demi kepentingan diri sendiri dan tidak mampu bertahan tanpa dukungan AS. Dia berkilah Arab Saudi telah bertindak demi kepentingan dunia, menunjukkan bahwa mereka dapat dengan mudah "membiarkan harga minyak meroket dan menghasilkan jutaan dan jutaan lebih banyak daripada yang dihasilkan. Kami mencoba mengendalikannya karena itu tidak baik untuk dunia. Jika dunia sakit, Arab Saudi akan sakit."
 
“Kawasan itu membutuhkan lebih banyak orang bijak dan kami berusaha bersikap seperti itu. Hal terakhir yang kami butuhkan adalah menangani hal-hal di luar kendali. Kami telah berusaha menjadi pemain yang menenangkan,” tambah Pangeran Khalid.
 
Mengacu pada serangan mendadak pada kapal tanker minyak di Teluk pada musim panas, dikaitkan dengan Iran. "Saya tidak berpikir orang menyadari betapa dekatnya kita dengan konflik yang signifikan setelah serangan awal kapal tanker. Itu benar-benar tiba-tiba. Kami tidak berharap Iran terlibat dalam serangan semacam itu. Itu cukup kurang ajar," cetusnya, disitir dari Guardian, Selasa 15 Oktober 2019.
 
"Kami tidak ingin menjadi pemain hegemonik di wilayah ini. Justru sebaliknya, jika pun ada; kami hanya ingin dibiarkan sendirian. Kebetulan kami memiliki dua hal yang paling diidamkan di dunia -- kota suci Islam, dan minyak."

Tak akan balas Iran


Dia membantah keengganan Saudi melancarkan serangan balasan militer terhadap serangan-serangan Iran. Tetapi mengaku Riyadh berupaya merangkul Iran sejak satu dekade lalu, hanya ditolak.
 
Meskipun Pangeran Khalid mengakui "banyak hal yang salah dalam perang di Yaman", ia membela intervensi awal, tetapi tidak memastikan rencana untuk mewujudkan perdamaian. Dikatakannya bahwa Houthi akan datang ke meja perundingan. "Kami berhadapan dengan orang-orang yang menggunakan akal-akalan sebagai bagian dari proses politik mereka," katanya.
 
Dia mengakui tanggapan awal pemerintah Saudi sangat membingungkan ketika dilaporkan bahwa pejabat Saudi bertanggung jawab atas pembunuhan kolumnis Washington Post Jamal Khashoggi tahun lalu di konsulat Saudi di Ankara, Turki.
 
Episode itu menodai masyarakat Saudi, dia akui. "Begitu kebenaran mulai keluar, itu merupakan kejutan bagi sistem dan ketika Anda syok, Anda merespons dengan buruk dan sebagian dari reaksi kami diliputi kegilaan atas apa yang terjadi," katanya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif